Membaca Taurat dan Al-Qur’an dari Akar Sejarah

Kitab Suci sebagai Ruang Ilmu

Kajian buku “Taurat dan Al-Qur’an: Studi Komparatif dalam Mashdariyah dan Tadwin” karya Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., Pengasuh Ma’had Jamia’ah Walisongo, menghadirkan cara pandang penting bagi santri dan mahasiswa di UIN Walisongo Semarang. Buku ini tidak hanya membahas perbandingan dua kitab suci, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana teks keagamaan memiliki sejarah, sumber, proses penulisan, dan tradisi penjagaan.

Pokok utama buku ini berada pada dua istilah kunci: mashdariyah, yakni asal-usul dan sumber otoritas kitab, serta tadwin, yaitu proses pencatatan dan kodifikasi. Melalui dua pintu ini, pembaca diajak melihat bahwa memahami kitab suci memerlukan ilmu, ketelitian, dan tanggung jawab intelektual.

Buku ini menjadi penting karena santri hari ini hidup di tengah banjir informasi keagamaan. Tanpa kemampuan membaca sumber secara kritis, generasi muda mudah terjebak pada potongan informasi, perdebatan dangkal, atau klaim keagamaan yang tidak disertai dasar akademik.

Dari Hafalan Menuju Kedalaman Berpikir

Pesan kuat dari buku ini adalah bahwa tradisi keilmuan Islam tidak berhenti pada hafalan. Hafalan tetap penting, tetapi masa depan santri membutuhkan kemampuan memahami konteks, menelusuri sumber, membandingkan pendapat, dan menyusun argumen secara jernih.

Dalam kajian Taurat dan Al-Qur’an, Dr. Ahmad Maghfurin mengarahkan pembaca untuk tidak sekadar bertanya “apa isi teks”, tetapi juga “bagaimana teks itu sampai kepada umat”. Pertanyaan ini membuka ruang belajar tentang sejarah penulisan, otoritas wahyu, transmisi, serta cara umat beragama menjaga kitab sucinya dari masa ke masa.

Bagi santri, pendekatan seperti ini melatih kedewasaan intelektual. Mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga calon penjaga tradisi ilmu yang mampu menjelaskan agama dengan dasar, bukan sekadar dengan emosi atau kebiasaan turun-temurun.

Di tengah perkembangan teknologi, kemampuan seperti ini semakin dibutuhkan. Santri masa depan akan menghadapi ruang digital yang dipenuhi tafsir cepat, ceramah pendek, potongan dalil, dan opini keagamaan yang sering tidak lengkap. Buku ini memberi bekal agar santri mampu memilah informasi, memeriksa sumber, dan tetap berpijak pada adab ilmiah.

Masa Depan Santri dan Literasi Kitab Suci

Manfaat terbesar dari buku ini terletak pada dorongannya untuk membangun literasi kitab suci. Literasi ini bukan hanya kemampuan membaca teks Arab atau memahami terjemahan, tetapi juga kemampuan mengenali sejarah, metode, dan otoritas keilmuan di balik sebuah teks.

Bagi lingkungan UIN Walisongo Semarang, gagasan ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak lulusan yang taat secara ritual, tetapi juga cakap berdialog, teliti meneliti, dan mampu menjawab persoalan zaman. Santri perlu dipersiapkan menjadi aktor intelektual, bukan sekadar penerima pengetahuan.

Buku “Taurat dan Al-Qur’an” juga memperlihatkan bahwa kajian perbandingan agama dapat menjadi jalan edukatif. Selama dilakukan dengan metode ilmiah dan sikap hormat, kajian seperti ini membantu santri memahami perbedaan tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Pada akhirnya, buku ini membawa pesan sederhana tetapi penting: masa depan santri ditentukan oleh keberanian belajar lebih dalam. Santri yang mampu membaca sumber, memahami sejarah, dan menjaga adab berpikir akan lebih siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.