Semarang, 3 Juli 2026 — Pagi di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang menjadi momen penting bagi ribuan santri mahasiswa. Pada Jumat, 3 Juli 2026, pukul 07.00–11.00 WIB, Ma’had Al-Jamiah UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan Ḥaflah Ākhir al-Duf‘ah Gelombang 3 sebagai penutup masa pembinaan santri mahasiswa selama empat bulan.
Kegiatan ini diikuti oleh 1.278 wisudawan santri, terdiri atas 1.265 santri putri dan 13 santri putra, serta didampingi oleh 61 musyrif dan musyrifah. Lebih dari sekadar seremoni penutupan, kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang proses pembentukan karakter, penguatan akhlak, dan penanaman nilai kesantrian bagi mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Ma’had sebagai Ruang Pembentukan Karakter
Wakil Rektor III UIN Walisongo Semarang, Dr. Umul Baroroh, dalam sambutannya menegaskan bahwa kewajiban mahasiswa mengikuti program Ma’had memiliki tujuan strategis. Ma’had Al-Jamiah tidak hanya hadir sebagai tempat pembinaan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pendidikan karakter yang mendampingi mahasiswa pada masa awal kehidupan kampus.
Menurutnya, terdapat tiga karakter utama yang ingin dibentuk melalui program Ma’had, yaitu karakter santri, karakter cinta tanah air, dan karakter cinta almamater. Ketiga karakter ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa agar tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki fondasi moral, spiritual, dan sosial yang kuat.
“Melalui Ma’had, UIN Walisongo Semarang ingin memastikan lulusannya memiliki fondasi keislaman yang kuat sekaligus loyalitas pada bangsa dan kampus,” ujar Dr. Umul Baroroh.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara intelektual. Mahasiswa juga perlu dibekali dengan adab, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kesadaran berkontribusi bagi masyarakat. Dalam konteks ini, Ma’had menjadi bagian penting dari proses pembentukan mahasiswa yang utuh.
Empat Bulan yang Menguji Niat dan Kesungguhan
Tausiyah utama disampaikan oleh Abah Maghfurin dengan tema “4 Bulan di Ma’had”. Dalam penyampaiannya, ia mengajak para santri mahasiswa untuk memaknai kembali waktu yang telah mereka jalani selama mengikuti pembinaan.
Menurut Abah Maghfurin, empat bulan dapat terasa singkat apabila seseorang memiliki niat yang kuat dan target yang jelas. Bagi santri yang menata tujuan sejak awal, seperti memperbaiki bacaan Al-Qur’an, menambah hafalan, membangun kedisiplinan ibadah, dan memperbaiki akhlak, waktu empat bulan menjadi proses yang bernilai. Namun, waktu yang sama dapat terasa panjang apabila dijalani tanpa kesungguhan.
Ia juga menekankan pentingnya niat dalam menuntut ilmu. Mengutip ajaran dalam Ta’lim Muta’alim, Abah Maghfurin mengingatkan bahwa ilmu sebaiknya tidak dicari semata-mata untuk kepentingan dunia, tetapi juga sebagai bekal akhirat. Ilmu yang benar perlu disertai dengan akhlak agar memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Pesan lain yang ditekankan adalah pentingnya memuliakan ilmu dan guru. Dalam kehidupan Ma’had, musyrif dan musyrifah memiliki peran sebagai pendamping sekaligus pembimbing keseharian santri. Mereka tidak hanya membantu kelancaran aktivitas, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan adab dan kedisiplinan santri mahasiswa.
Abah Maghfurin menegaskan bahwa santri bukan sekadar status formal. Santri adalah sikap hidup yang tercermin dalam cara menghormati ilmu, menjaga perilaku, menghargai guru, dan bersabar dalam proses belajar. “Santri itu bukan status atau formalitas, tetapi sikap kesantrian yang harus kita miliki,” pesannya.
Nilai Kesantrian Setelah Ḥaflah
Ḥaflah Ākhir al-Duf‘ah Gelombang 3 menjadi momentum penting bagi para santri mahasiswa untuk membawa pengalaman Ma’had ke kehidupan kampus dan masyarakat. Setelah empat bulan pembinaan, nilai yang diperoleh di Ma’had diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus terlihat dalam sikap, kebiasaan, dan tanggung jawab sosial mahasiswa.
Abah Maghfurin juga mengingatkan bahwa salah satu syarat memperoleh ilmu adalah Ishthibar, yaitu kesabaran dalam menjalani proses dengan apa adanya. Pesan ini relevan bagi mahasiswa yang sedang memasuki perjalanan panjang pendidikan tinggi. Keberhasilan akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan berpikir, tetapi juga oleh kesabaran, ketekunan, dan adab dalam mencari ilmu.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan komitmen UIN Walisongo Semarang dalam memperkuat kehidupan beragama mahasiswa melalui Ma’had Al-Jamiah. Meskipun pengembangan sarana dan prasarana masih terus diupayakan, Ma’had tetap menjadi ruang pembinaan yang penting untuk menanamkan nilai keislaman, cinta tanah air, dan kecintaan kepada almamater.
Menutup tausiyahnya, Abah Maghfurin menyampaikan pesan yang menjadi inti kegiatan: “Santri adalah selamanya santri, tidak ada mantan santri.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masa pembinaan di Ma’had boleh selesai, tetapi nilai kesantrian harus terus hidup dalam diri mahasiswa.
