Oleh:
Dr. KH. Ahmad Maghfurin, M.Ag., MA
Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang
Setiap memasuki bulan Rabiul Awal, umat Islam di berbagai belahan dunia kembali mengenang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Di Indonesia, suasana Maulid biasanya diwarnai dengan pembacaan sirah Nabi, Barzanji, Diba’, Simthud Durar, pengajian, shalawat Bersama hingga kegiatan santunan. Di tempat lain, bentuknya bisa berbeda. Ada yang mengadakan kajian sirah, majelis shalawat, kegiatan sosial, atau bahkan tidak menyelenggarakan peringatan Maulid secara khusus.
Perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi sumber pertentangan. Sebab, cinta kepada Nabi adalah satu, tetapi cara mengekspresikannya dapat beragam. Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang sangat dicintai oleh umat Islam. Kecintaan kepada beliau bahkan merupakan bagian penting dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tua, anak, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur’an juga memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Apakah Peringatan Maulid Harus Memiliki Dalil Khusus?
Pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apa dalil peringatan Maulid Nabi?” Pertanyaan ini sah. Tetapi jawabannya perlu diberikan secara proporsional. Kita perlu membedakan antara ibadah mahdhah yang tata caranya ditentukan secara khusus oleh syariat dengan ekspresi kecintaan dan kegiatan kebaikan yang dilakukan dalam bentuk sosial-keagamaan.
Jika seseorang menetapkan bahwa suatu tata cara tertentu adalah ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan Nabi dengan waktu dan mekanisme tertentu, tentu diperlukan dalil yang jelas. Tetapi ketika masyarakat berkumpul untuk membaca Al-Qur’an, bershalawat, membaca sejarah Nabi, mendengarkan nasihat agama, bersedekah, dan mengingat keteladanan Rasulullah ﷺ, maka semua bentuk pertemuan tersebut tidak perlu dicari padanan persisnya dalam praktik Nabi. Ekspresi cinta tidak memerlukan dalil yang menentukan bentuknya secara detail.
Sikap moderat bukan membenarkan seluruh praktik Maulid tanpa kritik, juga bukan menolak seluruh praktik perayaan Maulid hanya karena Nabi dan para sahabat tidak mengadakan peringatan dengan bentuk seperti yang dilakukan masyarakat sekarang. Yang lebih bijak adalah melihat isi dan cara pelaksanaannya.
Jika Maulid diisi dengan membaca Al-Qur’an, shalawat, sirah Nabi, nasihat agama, sedekah, santunan, dan kegiatan sosial, maka substansinya adalah kebaikan. Tetapi jika dalam pelaksanaannya terdapat kemaksiatan, pemborosan, kesombongan, klaim-klaim yang tidak berdasar, atau keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, maka bagian tersebut harus dikoreksi. Dengan demikian, kita tidak perlu menggunakan pendekatan hitam-putih: benar atau salah. Yang diperlukan adalah penilaian yang lebih rinci: Apa yang dilakukan? Apa isinya? Apa keyakinan di baliknya? Apakah sesuai dengan prinsip syariat?
Bagaimana dengan Mahallul Qiyam?
Dalam konteks Indonesia, Maulid telah berinteraksi dengan budaya lokal dan berkembang menjadi berbagai bentuk. Ada pembacaan Barzanji, Diba’, Simthud Durar, pengajian, shalawat, santunan, sedekah, dan berbagai kegiatan sosial-keagamaan lainnya. Tradisi tersebut merupakan ekspresi masyarakat dalam menerjemahkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dalam konteks budaya mereka.
Salah satu bagian Maulid yang paling sering dipersoalkan adalah mahallul qiyam, yaitu jamaah berdiri ketika sampai pada bagian tertentu dalam pembacaan Maulid dan membaca shalawat bersama.
Pertanyaan yang muncul biasanya:
“Mengapa harus berdiri?”
“Apakah Nabi datang?”
Pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan tenang dan jernih.
Berdiri dalam mahallul qiyam tidak harus dipahami sebagai keyakinan bahwa Nabi Muhammad ﷺ datang secara fisik ke tempat acara. Pemahaman seperti itu justru harus dihindari karena tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lalu, apa makna berdiri?
Berdiri dapat dipahami sebagai ekspresi penghormatan dan kecintaan. Jamaah sebelumnya telah duduk dalam waktu yang cukup lama untuk membaca sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ. Mereka mendengarkan kisah kelahiran, perjuangan, akhlak, dakwah, dan perjuangan Nabi. Kemudian, ketika sampai pada bagian tertentu yang menggambarkan kelahiran atau kedatangan Rasulullah ﷺ sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta, mereka berdiri dan bershalawat. Dalam konteks ini, berdiri adalah kreasi prosesi sebagai simbol penghormatan, bukan bagian dari rukun ibadah dan bukan pula pengakuan bahwa Nabi hadir secara fisik.
Seseorang dapat membayangkan suasana ketika Rasulullah ﷺ lahir. Ia dapat membayangkan bagaimana masyarakat Arab menerima dakwah beliau. Ia dapat membayangkan akhlak beliau ketika berinteraksi dengan sahabat. Ia dapat merasakan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ. Semua itu merupakan pengalaman batin dan imajinasi historis, bukan keyakinan tentang kehadiran fisik Nabi. Karena itu, sangat penting memberikan batas yang jelas: Berdiri karena cinta dan penghormatan boleh dipahami sebagai ekspresi budaya; meyakini Nabi hadir secara fisik adalah persoalan yang berbeda.
Kecintaan kepada Nabi adalah sesuatu yang mulia. Tetapi kecintaan juga harus ditempatkan dalam koridor tauhid. Jangan sampai Maulid yang awalnya merupakan ekspresi kecintaan berubah menjadi ruang berkembangnya keyakinan-keyakinan yang tidak memiliki dasar. Kita boleh mencintai Nabi dengan sangat dalam, tetapi tetap meyakini bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah. Kita menghormati beliau setinggi-tingginya, tetapi tidak mengangkat beliau pada kedudukan ketuhanan. Kita bershalawat kepadanya, tetapi tetap memohon pertolongan dan beribadah hanya kepada Allah. Inilah keseimbangan antara mahabbah dan tauhid.
Maulid Harus Mengantarkan kepada Sunnah
Pada akhirnya, keberhasilan Maulid tidak seharusnya diukur dari seberapa meriah acaranya. Ukuran yang lebih penting adalah:
Apa yang terjadi setelah Maulid selesai?
Apakah kita semakin mengenal Nabi?
Apakah shalat kita semakin baik?
Apakah akhlak kita semakin mulia?
Apakah kita semakin jujur, amanah, penyayang, dan pemaaf?
Apakah kita semakin peduli kepada orang miskin?
Apakah kita semakin menjaga lisan dari fitnah dan kebencian?
Apakah kita semakin mencintai persatuan umat?
Jika jawabannya ya, maka Maulid telah membawa pesan yang sangat penting. Sebab cinta kepada Nabi tidak cukup hanya diucapkan. Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31). Ayat ini mengajarkan bahwa cinta harus berbuah ittiba’, mengikuti Rasulullah ﷺ. Maka, Maulid seharusnya menjadi pintu menuju sunnah, bukan berhenti sebagai seremoni.
Dari Perbedaan Menuju Kedewasaan
Umat Islam tidak harus seragam dalam semua persoalan yang bersifat ekspresi budaya.Ada yang memperingati Maulid, ada yang tidak. Ada yang membaca kitab tertentu, ada yang menggunakan kitab lain. Ada yang berdiri ketika mahallul qiyam, ada yang tetap duduk. Ada yang mengadakan pengajian besar, ada yang memilih kajian sederhana di masjid.
Selama perbedaan tersebut berada dalam wilayah yang dapat ditoleransi dan tidak menyentuh prinsip akidah serta tidak mengandung kemaksiatan, jangan menjadikannya alasan untuk saling mencela dan memutus persaudaraan. Kita perlu belajar membedakan antara prinsip agama dan ekspresi budaya, antara akidah dan tradisi, antara sunnah dan kreativitas sosial, serta antara cinta yang sehat dan cinta yang berlebihan. Dengan cara pandang seperti ini, Maulid dapat menjadi ruang perjumpaan umat, bukan medan pertengkaran.
Beda Cara, Satu Cinta
Maulid Nabi pada akhirnya adalah persoalan bagaimana umat mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Ekspresi itu dapat berbeda-beda menurut negara, budaya, komunitas, dan tradisi masyarakat. Indonesia memiliki cara Indonesia. Yaman memiliki cara Yaman. Mesir memiliki cara Mesir. Maroko memiliki cara Maroko. Komunitas Muslim di tempat lain pun memiliki ekspresinya masing-masing. Yang tidak boleh berbeda adalah prinsip dasarnya: mencintai Rasulullah ﷺ, memuliakannya sebagai utusan Allah, bershalawat kepadanya, mempelajari sirahnya, dan mengikuti ajarannya.
Yang perlu kita lawan bukan perbedaan ekspresi, tetapi sikap berlebihan, khurafat, kemaksiatan, dan permusuhan yang menghilangkan ruh ajaran Nabi. Maulid yang ideal adalah Maulid yang menghadirkan cinta tanpa khurafat, penghormatan tanpa pengkultusan, tradisi tanpa kemaksiatan, dan kegembiraan tanpa berlebihan. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan apakah kita berdiri atau duduk, tetapi apakah hati kita mencintai Rasulullah ﷺ dan kehidupan kita semakin mengikuti sunnah beliau.
Berbeda cara, satu cinta. Berbeda tradisi, satu kiblat. Berbeda ekspresi, satu teladan: Muhammad Rasulullah ﷺ.
