Semarang, 3 September 2026 — Seorang penuntut ilmu tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan keikhlasan, kesungguhan, dan adab dalam menjalani proses belajar. Pesan tersebut menjadi inti pembahasan dalam الدورة العلمية (Ad-Daurah Al-‘Ilmiyyah/Kuliah Ilmiah) yang diselenggarakan Ma’had Al-Jami’ah Walisongo pada Kamis (3/9/2026) di Aula Gedung Q, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo.

Menghadirkan Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah, ulama ahli hadis dari Turki, serta KH. Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, kegiatan ilmiah ini mengkaji kitab Ma‘ālim Irsyādiyyah li Shinā‘ati Ṭālib al-‘Ilm (معالم إرشادية لصناعة طالب العلم), yang membahas prinsip-prinsip pembentukan karakter seorang penuntut ilmu. Diskusi keilmuan tersebut dipandu oleh Dr. Rahman Hakim selaku moderator yang mengarahkan jalannya dialog dan pendalaman materi antara narasumber dengan peserta.

Dalam forum tersebut, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah menyampaikan pentingnya membangun tradisi keilmuan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kerendahan hati, integritas, dan penghormatan terhadap adab dalam mencari ilmu.

Dalam kajiannya, Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah menekankan bahwa ilmu harus membentuk pribadi yang rendah hati, bukan melahirkan kesombongan intelektual.

“Penuntut ilmu harus kritis dalam mencari kebenaran, tetapi tidak boleh kehilangan adab dan merasa lebih baik daripada orang lain.”

Menurut Syekh Muhyiddin, semakin luas ilmu yang dimiliki seseorang seharusnya semakin besar kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Karena itu, proses belajar harus selalu disertai sikap tawadhu’, menghormati guru, dan menghargai perbedaan pandangan.

Ilmu Harus Melahirkan Karakter, Bukan Hanya Pengetahuan

Kegiatan ilmiah tersebut menyoroti persoalan penting dalam dunia pendidikan saat ini, yaitu bagaimana membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan berpikir kritis, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menggunakan ilmu.

Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah menjelaskan bahwa perjalanan seorang penuntut ilmu membutuhkan beberapa fondasi utama, yaitu keikhlasan, doa, kesungguhan, kesabaran, serta kemampuan menjaga diri dari sifat sombong.

“Ilmu bukan hanya tentang mengetahui sesuatu, tetapi tentang bagaimana ilmu itu memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi orang lain.”

Pesan tersebut menempatkan ilmu sebagai proses pembentukan manusia secara utuh. Seorang akademisi atau mahasiswa tidak cukup hanya mampu menguasai teori, tetapi juga harus memiliki karakter ilmiah yang tercermin melalui sikap terbuka, rendah hati, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, KH. Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan pesantren dan perguruan tinggi harus mampu mengintegrasikan aspek keilmuan dengan pembentukan akhlak.

“Ma’had bukan hanya tempat untuk menambah pengetahuan, tetapi juga tempat membentuk karakter para pencari ilmu agar memiliki ilmu yang bermanfaat dan akhlak yang baik.”

Menurut KH. Ahmad Maghfurin, tradisi keilmuan harus terus dijaga melalui budaya membaca, berdiskusi, menulis, serta menghormati para ulama dan guru. Ilmu yang kuat harus berjalan bersama dengan karakter yang kuat.

Tradisi Pena dan Budaya Kritik yang Beradab

Salah satu pesan menarik dalam kajian tersebut adalah pentingnya menjadikan pena sebagai simbol perjuangan intelektual. Seorang penuntut ilmu harus membangun tradisi mencatat, membaca, menulis, dan mengembangkan gagasan.

Pena bukan sekadar alat tulis, tetapi simbol tanggung jawab dalam menjaga dan menyebarkan ilmu. Melalui tulisan, ilmu dapat diwariskan dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Dalam konteks akademik modern, pesan tersebut memiliki relevansi besar. Mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir kritis, melakukan kajian, dan menghasilkan gagasan baru. Namun, kritik akademik harus tetap berada dalam koridor penghormatan.

“Perbedaan pendapat dalam ilmu adalah bagian dari proses pencarian kebenaran, tetapi perbedaan itu tidak boleh menghilangkan persaudaraan dan adab.”

KH. Ahmad Maghfurin menambahkan bahwa tradisi intelektual Islam sejak dahulu berkembang melalui dialog dan perbedaan pandangan yang konstruktif.

“Generasi penuntut ilmu harus memiliki keberanian berpikir, tetapi tetap menjaga kesantunan dalam menyampaikan pendapat.”

Menyiapkan Generasi Ilmuwan yang Berintegritas

Kuliah ilmiah Ma’had Al-Jami’ah Walisongo memberikan pesan bahwa kualitas seorang penuntut ilmu tidak hanya diukur dari banyaknya informasi yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut membentuk perilaku.

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat pengetahuan semakin mudah diperoleh, tantangan terbesar pendidikan adalah membangun manusia yang mampu memilah informasi, berpikir mendalam, dan tetap memiliki nilai etika.

Syekh Prof. Dr. Muhyiddin Awwamah melalui kajian tersebut mengingatkan bahwa ilmu harus menjadi jalan untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Sementara KH. Dr. Ahmad Maghfurin menegaskan komitmen Ma’had Al-Jami’ah Walisongo untuk terus menghadirkan ruang pembelajaran yang menguatkan tradisi intelektual dan karakter peserta didik.

Pada akhirnya, kegiatan ini menghadirkan sebuah refleksi penting: seorang penuntut ilmu bukan hanya dituntut untuk memiliki pikiran yang tajam, tetapi juga rendah hati. Ilmu yang besar harus melahirkan manusia yang semakin bijaksana, bukan semakin merasa tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *