Di antara deretan ulama besar Nusantara yang mengabdikan hidupnya untuk menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an, nama Mbah Kiai Muhammad Arwani Amin Kudus menempati kedudukan yang sangat penting. Beliau dikenal bukan hanya sebagai seorang hafiz, pengasuh pesantren, dan guru Al-Qur’an, tetapi juga sebagai salah satu tokoh utama dalam penyebaran ilmu qira’at sab‘ah di Indonesia.
Melalui ketekunan belajar, pengajaran yang disiplin, karya tulis, jaringan sanad, serta pendirian Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an, Mbah Arwani menjadikan Kudus sebagai salah satu pusat pendidikan Al-Qur’an yang berpengaruh di Indonesia. Kehidupannya memperlihatkan bahwa menjaga Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan menghafalnya. Al-Qur’an juga harus dibaca secara benar, dipelajari melalui guru yang memiliki sanad, diajarkan dengan penuh tanggung jawab, dan diwujudkan dalam akhlak kehidupan sehari-hari.
Tumbuh dalam Lingkungan Al-Qur’an
KH Muhammad Arwani Amin lahir di kawasan Madureksan, Kerjasan, Kudus, pada 5 September 1905. Beliau merupakan putra dari Haji Amin Sa’id dan Hajjah Wanifah. Keluarganya dikenal sebagai keluarga santri yang memiliki kedekatan kuat dengan tradisi keagamaan dan pembelajaran Al-Qur’an.
Sejak kecil, Arwani tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi kitab-kitab keislaman, pengajian, bacaan Al-Qur’an, serta penghormatan kepada para ulama. Ayahnya dikenal memiliki toko kitab Al-Amin di Kudus. Keberadaan toko tersebut membuat Arwani kecil akrab dengan dunia kitab, ilmu agama, dan kehidupan intelektual pesantren.
Kedua orang tuanya juga dikenal memiliki kebiasaan membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Kebiasaan itu memberi pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kecintaan Arwani kepada kitab suci. Dari keluarganya, ia belajar bahwa Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ibadah, melainkan pedoman hidup yang harus dijaga dengan kesungguhan.
Nama kecil beliau adalah Arwan. Setelah menunaikan ibadah haji, namanya kemudian lebih dikenal sebagai Arwani. Sementara itu, nama Amin yang melekat pada namanya berhubungan dengan nama ayahnya, Amin Sa’id.
Kudus pada masa kecil Mbah Arwani merupakan kota yang memiliki kehidupan keagamaan sangat kuat. Masjid Menara Kudus, madrasah, pesantren, pengajian kitab, dan jaringan keluarga santri menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Lingkungan inilah yang menjadi tempat pertama terbentuknya kecintaan Mbah Arwani terhadap ilmu dan para ulama.
Perjalanan Panjang Mencari Ilmu
Keulamaan Mbah Arwani tidak diperoleh melalui proses yang singkat. Beliau menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ilmu yang mendalam membutuhkan kesabaran, ketekunan, pengorbanan, dan kesediaan untuk selalu belajar.
Pendidikan awal Mbah Arwani ditempuh di Madrasah Mu’awanatul Muslimin di kawasan Kenepan, tidak jauh dari Masjid Menara Kudus. Madrasah tersebut berada di bawah bimbingan KH Abdullah Sajjad. Di tempat inilah beliau mempelajari dasar-dasar ilmu agama, membaca Al-Qur’an, fikih, bahasa Arab, serta adab seorang murid kepada guru.
Setelah menyelesaikan pendidikan awalnya di Kudus, Mbah Arwani melanjutkan perjalanan keilmuan menuju Surakarta. Beliau belajar di Pesantren Jamsaren dan Madrasah Mambaul Ulum. Di lingkungan tersebut, beliau berguru kepada KH Idris Jamsaren.
Mambaul Ulum merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam penting di Surakarta. Lembaga ini memadukan sistem pesantren dengan pendidikan madrasah yang lebih terstruktur. Di sana, Mbah Arwani memperdalam fikih, bahasa Arab, ilmu alat, dan bacaan Al-Qur’an. Salah satu jalur bacaan yang dipelajarinya adalah qira’at Imam ‘Ashim melalui riwayat Hafsh, yaitu bacaan Al-Qur’an yang paling luas digunakan oleh masyarakat Muslim Indonesia.
Perjalanan ilmunya kemudian berlanjut ke Pesantren Tebuireng, Jombang. Sekitar tahun 1926 hingga 1929, beliau belajar kepada Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng, Mbah Arwani memperdalam ilmu hadis, fikih, akhlak, dan berbagai disiplin ilmu keislaman lainnya.
Pengalaman belajar di Tebuireng menjadi salah satu tahapan penting dalam pembentukan keilmuan beliau. Di pesantren ini, Mbah Arwani mulai mempelajari dasar-dasar teori qira’at sab‘ah. Beliau mengenal kitab-kitab qira’at, termasuk kitab yang menjelaskan nazam al-Syathibiyyah, salah satu rujukan utama dalam pembelajaran tujuh qira’at.
Dasar teori yang diperoleh di Tebuireng kelak sangat membantu ketika beliau mendalami qira’at secara langsung di Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
Menjadi Murid KH Muhammad Munawwir Krapyak
Tahap terpenting dalam perjalanan keilmuan Mbah Arwani berlangsung di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di pesantren tersebut, beliau berguru kepada KH Muhammad Munawwir, salah satu ulama besar Al-Qur’an di Indonesia.
KH Muhammad Munawwir dikenal sebagai ulama yang memiliki sanad bacaan Al-Qur’an dan qira’at setelah menuntut ilmu selama bertahun-tahun di Makkah dan Madinah. Melalui KH Munawwir, tradisi keilmuan Al-Qur’an dari Haramain diteruskan kepada para santri di Nusantara.
Pada awalnya, Mbah Arwani datang ke Krapyak untuk mengantarkan adiknya belajar. Namun, setelah melihat secara langsung cara KH Munawwir mengajarkan Al-Qur’an, beliau tertarik untuk menetap dan memperdalam qira’at sab‘ah.
Untuk mempelajari qira’at sab‘ah secara langsung, seorang murid harus memiliki hafalan Al-Qur’an yang kuat. Mbah Arwani pun menjalani proses menghafal, mengulang, dan menyetorkan bacaan kepada gurunya. Setelah hafalannya dinilai matang, beliau melanjutkan pembelajaran qira’at sab‘ah melalui metode talaqqi dan musyafahah.
Talaqqi adalah proses belajar dengan membaca secara langsung di hadapan guru. Sementara musyafahah berarti murid memperhatikan dan menirukan cara guru melafalkan setiap huruf, harakat, panjang-pendek bacaan, serta variasi qira’at.
Melalui proses ini, kesalahan sekecil apa pun dapat diketahui dan dibetulkan oleh guru. Dalam tradisi Al-Qur’an, metode tersebut sangat penting karena tidak semua cara membaca dapat dipahami hanya melalui tulisan.
Mbah Arwani menyelesaikan pembacaan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan berbagai wajah qira’at di hadapan KH Munawwir. Proses tersebut berlangsung selama bertahun-tahun. Sebagian sumber menyebut pembelajaran qira’atnya berlangsung sekitar tujuh hingga sembilan tahun, sedangkan keseluruhan masa tinggal dan pengabdiannya di Krapyak mencapai sekitar sebelas tahun.
Lamanya proses belajar tersebut menunjukkan betapa berat dan telitinya pendidikan qira’at. Seorang murid tidak hanya dituntut memiliki hafalan, tetapi juga harus mampu memahami kaidah, membedakan bacaan setiap imam, mengenali para perawi, serta menjaga ketepatan bacaan dari awal hingga akhir Al-Qur’an.
Keilmuan Al-Qur’an yang Mendalam
Mbah Arwani dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki keluasan ilmu agama. Namun, bidang yang paling menonjol dalam dirinya adalah ilmu Al-Qur’an, khususnya tahfiz, tajwid, sanad, dan qira’at sab‘ah.
Bagi Mbah Arwani, menghafal Al-Qur’an bukan hanya kemampuan mengingat susunan ayat. Hafalan harus disertai ketepatan makhraj, sifat huruf, hukum tajwid, tempat berhenti dan memulai bacaan, kelancaran, serta adab kepada Al-Qur’an.
Seorang penghafal Al-Qur’an juga harus menjaga bacaannya melalui murajaah atau pengulangan yang teratur. Hafalan yang tidak dirawat akan mudah melemah. Oleh karena itu, tradisi pendidikan Mbah Arwani menekankan kesungguhan, kedisiplinan, dan hubungan yang berkelanjutan antara guru dan murid.
Selain tahfiz dan tajwid, Mbah Arwani memiliki keahlian khusus dalam qira’at sab‘ah. Qira’at sab‘ah merupakan ilmu yang mempelajari tujuh tradisi bacaan Al-Qur’an yang dinisbatkan kepada tujuh imam qira’at.
Perbedaan qira’at dapat terlihat pada cara membaca harakat, panjang dan pendek, pengucapan huruf tertentu, imalah, idgham, tashil, bentuk kata, atau variasi bacaan pada ayat tertentu. Perbedaan tersebut bukan kesalahan dan bukan pula hasil kreativitas pembaca. Seluruhnya bersumber dari jalur periwayatan yang diterima dan diajarkan oleh para ulama dari generasi ke generasi.
Karena itu, qira’at tidak dapat dipelajari hanya melalui buku. Seorang murid harus belajar kepada guru yang memiliki kemampuan, izin, dan sanad. Sanad merupakan mata rantai periwayatan ilmu yang menghubungkan seorang murid kepada gurunya, kemudian kepada guru sebelumnya, hingga sampai kepada Rasulullah saw.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad bukan sekadar daftar nama. Sanad menunjukkan adanya proses belajar, pengujian kemampuan, tanggung jawab, serta kesinambungan ilmu.
Setelah menyelesaikan pembelajaran qira’at sab‘ah kepada KH Munawwir, Mbah Arwani memiliki kedudukan sebagai seorang muqri’. Muqri’ adalah ulama yang memiliki kemampuan mengajarkan qira’at dan memberikan ijazah kepada murid yang telah memenuhi persyaratan.
Karya Monumental Faiḍ al-Barakāt
Salah satu warisan terbesar Mbah Arwani adalah kitab berjudul:
Faiḍ al-Barakāt fī Sab‘ al-Qirā’āt
Judul tersebut dapat dimaknai sebagai “Limpahan Keberkahan dalam Tujuh Qira’at”. Kitab ini menjadi salah satu karya penting ulama Nusantara dalam bidang qira’at.
Kitab Faiḍ al-Barakāt pada awalnya berasal dari catatan-catatan Mbah Arwani ketika masih belajar kepada KH Munawwir Krapyak. Sebelum menyetorkan bacaan, beliau menulis berbagai variasi qira’at, urutan bacaan, nama imam, nama perawi, serta cara menggabungkan wajah-wajah bacaan.
Catatan tersebut kemudian disusun secara lebih teratur sehingga dapat digunakan sebagai pedoman pembelajaran. Kitab ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan kitab-kitab qira’at klasik. Sebaliknya, Faiḍ al-Barakāt berfungsi sebagai panduan praktis agar pelajar lebih mudah menerapkan kaidah qira’at ketika membaca ayat Al-Qur’an.
Salah satu dasar penyusunan kitab ini adalah al-Syathibiyyah, yaitu nazam yang ditulis oleh Imam al-Syathibi. Kitab tersebut menjadi rujukan utama dalam ilmu qira’at sab‘ah. Namun, karena ditulis dalam bentuk syair Arab yang padat, al-Syathibiyyah tidak mudah dipahami oleh pelajar pemula.
Mbah Arwani kemudian membantu menjembatani kerumitan teori tersebut melalui susunan yang lebih praktis. Pembahasan dalam Faiḍ al-Barakāt mengikuti urutan ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, santri dapat mengetahui variasi bacaan pada ayat yang sedang dipelajari.
Kitab ini juga menggunakan metode jam‘, yaitu metode menggabungkan beberapa wajah bacaan dalam satu rangkaian yang teratur. Metode tersebut membutuhkan penguasaan kuat terhadap bacaan masing-masing imam dan perawi.
Melalui Faiḍ al-Barakāt, pelajar dibimbing agar tidak mencampur bacaan secara sembarangan. Setiap perpindahan bacaan harus mengikuti kaidah dan jalur periwayatan yang benar.
Pada masa awal, kitab ini belum dicetak dalam jumlah banyak. Para murid Mbah Arwani menyalinnya dengan tulisan tangan. Tradisi menyalin tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran. Dengan menulis ulang, santri dapat lebih teliti mengenali rumus, urutan, dan perbedaan bacaan.
Seiring bertambahnya jumlah santri dan peneliti, kitab tersebut kemudian dicetak. Proses pencetakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan pada simbol, istilah, dan rumus qira’at.
Faiḍ al-Barakāt bukan hanya dipelajari di pesantren, tetapi juga menjadi objek penelitian akademik. Beberapa bagian kitab ini telah dikaji dan ditahqiq oleh para peneliti, termasuk di Universitas Al-Azhar, Kairo. Kajian-kajian tersebut membahas metode jam‘, sumber qira’at, sistematika penulisan, serta kontribusinya terhadap perkembangan ilmu qira’at.
Karya tersebut menunjukkan bahwa ulama Nusantara tidak hanya menjadi penerima ilmu dari Timur Tengah. Mereka juga mampu mengolah, menyusun, dan menghasilkan karya ilmiah yang memiliki nilai penting dalam dunia Islam.
Metode Pendidikan yang Teliti
Sistem pendidikan Mbah Arwani dibangun melalui latihan yang panjang dan berulang. Beliau tidak hanya menyampaikan penjelasan, tetapi mendampingi murid dalam membaca, menghafal, menulis, serta memperbaiki kesalahan.
Metode utama yang digunakan adalah talaqqi musyafahah. Santri membaca secara langsung di hadapan guru. Guru kemudian memperhatikan makhraj, sifat huruf, hukum tajwid, panjang-pendek, tempat berhenti, serta penggunaan wajah qira’at.
Metode lain adalah setoran bin-nazhar dan bil-hifzhi. Bin-nazhar berarti membaca dengan melihat mushaf, sedangkan bil-hifzhi berarti membaca melalui hafalan. Kedua metode tersebut memiliki tujuan berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan ketelitian.
Dalam pembelajaran qira’at, santri terlebih dahulu mempelajari bacaan setiap imam secara terpisah. Tahap ini dikenal sebagai pembelajaran secara mufradat. Setelah masing-masing bacaan dikuasai, santri dapat melanjutkan pada tahap jam‘ atau penggabungan.
Pembelajaran bertahap tersebut penting agar santri tidak mencampurkan satu riwayat dengan riwayat lainnya tanpa aturan.
Mbah Arwani juga mendorong para santrinya untuk menulis. Para murid diminta mencatat, menyalin, dan memahami materi yang dipelajari. Tradisi menulis tersebut melatih ketelitian dan membantu menjaga ilmu agar tidak mudah hilang.
Kekuatan lain dari sistem pendidikan Mbah Arwani adalah kaderisasi. Murid yang telah matang tidak dibiarkan hanya menjadi pengikut. Mereka diberi tanggung jawab untuk mengajar dan membimbing santri lain.
Sebagian murid dipercaya menjadi badal, yaitu pengganti atau pembantu guru dalam melaksanakan pengajaran. Kepercayaan tersebut diberikan berdasarkan kemampuan, kedisiplinan, kejujuran, dan kematangan spiritual.
Mbah Arwani memahami bahwa ilmu tidak akan berkembang apabila seluruh kegiatan hanya bergantung kepada satu guru. Karena itu, beliau mempersiapkan para murid agar mampu menjadi guru di daerah masing-masing.
Berdirinya Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an
Jejak kelembagaan terbesar Mbah Arwani adalah Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an di Kudus. Nama Yanbu’ul Qur’an memiliki arti “mata air Al-Qur’an”. Nama ini menggambarkan harapan agar pesantren menjadi sumber ilmu, keberkahan, dan pendidikan Al-Qur’an bagi masyarakat.
Sejarah pesantren tersebut bermula dari pengajian yang diselenggarakan Mbah Arwani di sekitar kediamannya. Santri datang untuk belajar membaca, menghafal, dan memperdalam ilmu Al-Qur’an.
Semakin lama, jumlah santri yang datang semakin banyak. Mereka tidak hanya berasal dari Kudus, tetapi juga dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa. Kondisi tersebut mendorong pembentukan lembaga pendidikan yang lebih teratur.
Pengajian tersebut kemudian berkembang menjadi Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan tahfiz, tajwid, sanad, dan qira’at.
Setelah masa Mbah Arwani, pesantren diteruskan oleh keluarga dan para muridnya. Dalam perkembangannya, Yayasan Arwaniyyah mendirikan berbagai lembaga pendidikan untuk santri anak-anak, remaja, dewasa, putra, dan putri.
Yanbu’ul Qur’an tidak hanya menjadi sebuah pesantren dalam pengertian fisik. Pesantren ini berkembang menjadi jaringan pendidikan. Para santrinya kembali ke daerah masing-masing, mengajar Al-Qur’an, mendirikan pesantren, membangun rumah tahfiz, serta meneruskan sanad yang mereka terima.
Dengan demikian, pengaruh Mbah Arwani tidak berhenti di Kudus. Pengaruh tersebut menyebar melalui para alumni, murid, keluarga, kitab, dan lembaga pendidikan.
Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah
Kepribadian Mbah Arwani tidak hanya dibentuk oleh ilmu qira’at. Beliau juga mendalami tasawuf dan menjalani pendidikan tarekat.
Mbah Arwani belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada KH Sirojuddin di Undaan, Kudus. Setelah gurunya wafat, perjalanan spiritual tersebut dilanjutkan kepada KH Manshur di Popongan, Klaten.
Melalui proses pendidikan yang panjang, Mbah Arwani kemudian memperoleh amanat sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Mursyid adalah guru yang memiliki kewenangan untuk membimbing murid dalam perjalanan spiritual berdasarkan sanad tarekat.
Bagi Mbah Arwani, tarekat bukanlah jalan yang terpisah dari syariat. Tasawuf harus dibangun di atas ketaatan dalam ibadah, akhlak yang baik, zikir, pengendalian diri, dan kepatuhan terhadap ajaran agama.
Pengajaran tarekat yang dikembangkan Mbah Arwani berpusat pada pembentukan hati. Para murid dibimbing untuk membersihkan niat, melawan kesombongan, menjaga lisan, memperbanyak zikir, serta meningkatkan kesadaran kepada Allah.
Dalam perkembangannya, kegiatan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang dibimbing Mbah Arwani meluas ke berbagai daerah. Beliau memiliki badal tarekat yang membantu membimbing jamaah di Kudus, Pati, Jepara, Demak, dan daerah lainnya.
Perpaduan antara qira’at dan tasawuf menjadi salah satu ciri utama Mbah Arwani. Ilmu qira’at mendidik ketepatan bacaan, sedangkan tasawuf mendidik keikhlasan pembacanya.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya benar diucapkan oleh lisan, tetapi juga diharapkan mampu membersihkan hati dan membentuk perilaku.
Murid dan Jaringan Sanad
Warisan Mbah Arwani hidup melalui murid-muridnya. Sejumlah ulama dari berbagai daerah belajar dan menyelesaikan qira’at sab‘ah kepada beliau.
Di antara murid-murid yang sering disebut dalam jaringan keilmuannya adalah KH Abdullah Salam Kajen, KH Muhammad Manshur Maskan, KH Muhammad Hisyam Hayat, KH Nawawi Abdul Aziz, KH Sya’roni Ahmadi, KH Muhammad Marwan, KH Muhammad Thosin, dan KH Muhammad Ulil Albab Arwani.
Selain para murid laki-laki, terdapat pula murid perempuan yang mendalami qira’at sab‘ah, salah satunya Nyai Nur Ishmah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Al-Qur’an dalam jaringan Mbah Arwani terbuka bagi siapa saja yang memiliki kesungguhan dan kemampuan.
Para murid tersebut kemudian menjalankan peran yang beragam. Sebagian mendirikan pesantren, sebagian menjadi pengasuh lembaga tahfiz, sebagian mengajar di perguruan tinggi, dan sebagian menulis kitab.
Melalui mereka, sanad Mbah Arwani menyebar ke berbagai wilayah. Sanad tersebut bukan hanya menunjukkan hubungan guru dan murid, tetapi juga membawa metode, etika, dan standar pengajaran yang sama.
Murid-murid Mbah Arwani tidak sekadar membawa ijazah. Mereka membawa tanggung jawab untuk menjaga ketepatan bacaan dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Keluarga dan Penerus Perjuangan
Mbah Arwani menikah dengan Nyai Hajjah Naqiyyul Khud. Dari pernikahan tersebut, beliau memiliki putra-putri. Dua putrinya disebut meninggal ketika masih kecil.
Dua putranya yang kemudian dikenal meneruskan perjuangan keluarga adalah KH Muhammad Ulin Nuha Arwani dan KH Muhammad Ulil Albab Arwani.
Keduanya melanjutkan pengasuhan pesantren, pengajaran Al-Qur’an, penerbitan kitab, serta pengembangan Yayasan Arwaniyyah. Di bawah generasi penerusnya, Yanbu’ul Qur’an berkembang menjadi jaringan pendidikan Al-Qur’an yang semakin luas.
Namun, warisan keluarga Mbah Arwani bukan hanya berupa kepemimpinan pesantren. Warisan terpentingnya adalah standar bacaan, kedisiplinan, adab, ketelitian, serta penghormatan kepada sanad.
Ulama yang Rendah Hati
Meskipun memiliki ilmu yang sangat luas, Mbah Arwani dikenal sebagai pribadi yang tawaduk. Kedalaman ilmunya tidak membuat beliau menjaga jarak dari masyarakat.
Beliau dikenal memuliakan tamu tanpa membedakan kedudukan. Pejabat, pedagang, santri, tetangga, dan masyarakat biasa diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah kebiasaan beliau merapikan sandal para tamunya. Perbuatan tersebut terlihat sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar tentang kerendahan hati.
Bagi Mbah Arwani, kemuliaan seorang ulama bukan diukur dari banyaknya orang yang melayani, melainkan dari kesediaannya melayani masyarakat.
Beliau juga dikenal tidak mudah marah ketika menghadapi penghinaan. Dalam salah satu kisah, terdapat tulisan yang bernada merendahkan dirinya. Ketika seorang murid ingin menghapus tulisan tersebut, Mbah Arwani tidak menanggapinya dengan kemarahan.
Kisah tersebut menggambarkan keluasan hati dan kemampuannya mengendalikan diri. Ilmu dan zikir telah membentuk kepribadian yang tidak mudah terganggu oleh pujian maupun celaan.
Mbah Arwani juga tidak merasa tersaingi oleh murid-muridnya. Ketika seorang murid dinilai mampu, beliau justru memberi kesempatan untuk mengajar.
Bagi beliau, tujuan pendidikan bukan mempertahankan popularitas seorang guru. Tujuan pendidikan adalah memastikan bahwa ilmu terus hidup dan semakin luas manfaatnya.
Wafat dan Warisan yang Tetap Hidup
Mbah Kiai Muhammad Arwani Amin wafat pada 1 Oktober 1994. Beliau dimakamkan di lingkungan Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an Kudus.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat. Namun, wafatnya tidak menghentikan pengaruh keilmuan beliau.
Kitab Faiḍ al-Barakāt terus dipelajari. Pesantren Yanbu’ul Qur’an terus berkembang. Para murid terus mengajar. Sanad qira’at terus diteruskan. Jamaah tarekat terus menjalankan bimbingan spiritual yang diwariskan melalui jaringan mursyid dan badal.
Warisan Mbah Arwani dapat dilihat dalam empat bentuk utama.
Pertama, warisan keilmuan berupa hafalan, tajwid, qira’at, dan metode pendidikan Al-Qur’an.
Kedua, warisan tekstual berupa kitab Faiḍ al-Barakāt fī Sab‘ al-Qirā’āt.
Ketiga, warisan kelembagaan berupa Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an dan jaringan lembaga pendidikan Arwaniyyah.
Keempat, warisan spiritual berupa tawaduk, keikhlasan, penghormatan kepada guru, kecintaan kepada santri, dan kesediaan melayani masyarakat.
Kedudukan Mbah Arwani dalam Sejarah Islam Nusantara
Mbah Arwani menempati kedudukan penting dalam sejarah Islam Indonesia karena menjadi salah satu penghubung utama antara sanad qira’at KH Muhammad Munawwir Krapyak dan jaringan pesantren Nusantara.
Beliau menerima ilmu melalui proses belajar yang sangat panjang, kemudian menyebarkannya melalui pengajaran, kitab, pesantren, dan kaderisasi murid.
Peran tersebut menjadikan Mbah Arwani bukan hanya sebagai penghafal Al-Qur’an, tetapi juga sebagai penjaga jalur transmisi ilmu.
Beliau juga berjasa mengubah qira’at sab‘ah yang sebelumnya hanya dipelajari oleh kalangan terbatas menjadi tradisi pendidikan yang memiliki dasar kelembagaan kuat.
Melalui Faiḍ al-Barakāt, beliau menyatukan tradisi lisan dan tulisan. Qira’at tetap diajarkan melalui talaqqi, tetapi para santri juga memiliki pedoman tertulis yang membantu proses belajar.
Mbah Arwani pun membuktikan bahwa ulama besar tidak harus menghasilkan banyak karya tertulis. Satu karya yang lahir dari pengalaman belajar mendalam dapat memberi manfaat sangat luas apabila diajarkan dan diwariskan secara konsisten.
Relevansi Keteladanan Mbah Arwani Saat Ini
Keteladanan Mbah Arwani tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan pembelajaran Al-Qur’an secara digital.
Aplikasi, rekaman suara, dan video dapat membantu seseorang belajar membaca Al-Qur’an. Namun, teknologi tidak sepenuhnya dapat menggantikan kehadiran guru.
Dalam pembelajaran qira’at, seorang guru tidak hanya menyampaikan informasi. Guru mendengar bacaan, membetulkan kesalahan, menilai kesiapan murid, serta memastikan bahwa ilmu dipelajari melalui jalur yang benar.
Mbah Arwani juga mengajarkan bahwa hafalan harus diikuti kualitas. Banyaknya juz yang dihafal tidak akan sempurna apabila tidak disertai tajwid, pemahaman waqaf, adab, dan kemampuan menjaga hafalan.
Dalam bidang pendidikan, beliau memberi teladan bahwa seorang guru harus mampu mencetak guru baru. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kekaguman kepada satu tokoh.
Seorang murid harus dibimbing hingga memiliki kemampuan, keberanian, dan integritas untuk mengajar generasi berikutnya.
Kitab Faiḍ al-Barakāt juga menunjukkan pentingnya budaya menulis. Karya besar tersebut bermula dari catatan seorang santri. Catatan yang disusun dengan teliti, dikoreksi guru, dan diuji dalam proses pembelajaran dapat berkembang menjadi karya yang bermanfaat bagi banyak generasi.
Lebih dari itu, Mbah Arwani mengajarkan bahwa kedalaman ilmu harus melahirkan kerendahan hati. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk melayani, menghormati, dan memberi manfaat kepada orang lain.
Penutup
Mbah Kiai Muhammad Arwani Amin Kudus merupakan salah satu penjaga mata rantai keilmuan Al-Qur’an di Indonesia. Beliau mengabdikan hidupnya untuk menghafal, membaca, menulis, mengajarkan, dan meneruskan Al-Qur’an melalui sanad yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari KH Muhammad Munawwir Krapyak, beliau menerima ilmu qira’at melalui proses yang panjang. Dari catatan-catatan belajarnya lahir kitab Faiḍ al-Barakāt. Dari pengajian sederhana tumbuh Pondok Tahfizh Yanbu’ul Qur’an. Dari para santrinya lahir guru, pesantren, majelis qira’at, dan lembaga tahfiz di berbagai daerah.
Kebesaran Mbah Arwani tidak hanya terletak pada luasnya ilmu, tetapi juga pada kemampuannya menyatukan ilmu, sanad, pendidikan, tasawuf, dan akhlak.
Dalam dirinya, Al-Qur’an tidak hanya dihafal oleh pikiran. Al-Qur’an dijaga oleh lisan, diteruskan melalui sanad, dituliskan dalam karya, diajarkan kepada murid, dan diwujudkan melalui kerendahan hati.
Karena itulah, Mbah Kiai Arwani Amin Kudus layak dikenang sebagai penjaga sanad Al-Qur’an, pelopor qira’at sab‘ah Nusantara, pendidik para ahli Al-Qur’an, dan teladan ulama yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada Allah dan pelayanan kepada umat.
