Perjalanan yang panjang perlahan mengubah pemandangan di balik jendela.
Hamparan sawah yang semula membentang luas mulai terputus-putus oleh bangunan. Pepohonan yang tumbuh rapat di sepanjang jalan berganti menjadi deretan toko, rumah makan, bengkel, dan papan iklan berwarna-warni. Kendaraan datang dari berbagai arah. Suara klakson terdengar saling bersahutan, seolah setiap orang sedang berlomba menyampaikan bahwa mereka memiliki tujuan yang harus segera dicapai.
Zahra memperbaiki posisi duduknya.
Sejak meninggalkan desa, ia tidak benar-benar tidur. Sesekali matanya terpejam, tetapi pikirannya tetap terjaga. Setiap kali mobil melewati tikungan atau berhenti karena kemacetan, ia kembali membuka mata dan melihat ke luar.
Kota terasa bergerak lebih cepat daripada tempat asalnya.
Di desa, pagi berjalan bersama suara ayam, embun, dan langkah para petani menuju kebun. Di kota, pagi seolah dibangunkan oleh mesin kendaraan, bunyi telepon genggam, serta orang-orang yang berjalan cepat tanpa sempat memperhatikan sekeliling.
Zahra melihat seorang perempuan menyeberang jalan sambil memegang gelas minuman dan berbicara melalui telepon. Tidak jauh darinya, seorang laki-laki mengendarai sepeda motor dengan sebuah tas besar di punggung. Sejumlah pelajar berjalan di trotoar sambil tertawa, sementara pedagang kaki lima sibuk menata barang dagangan.
Semua orang tampak mengetahui ke mana mereka akan pergi.
Hanya Zahra yang merasa seperti sedang dibawa menuju sebuah dunia yang belum memiliki tempat untuknya.
Tangannya meraih telepon genggam di dalam tas. Tidak ada pesan baru, tetapi ia kembali membuka percakapan terakhir dengan ibunya.
Jangan lupa baca doa perjalanan. Ibu sama Ayah selalu mendoakanmu. Hati-hati, Nduk.
Pesan itu masih sama.
Namun setelah jarak antara dirinya dan rumah semakin jauh, kalimat tersebut terasa memiliki arti yang lebih besar.
Zahra mengetik balasan.
Saya sudah mendekati kota, Bu. Insyaallah sebentar lagi sampai.
Ia menatap layar beberapa saat, kemudian menambahkan:
Ibu jangan khawatir.
Jemarinya berhenti di atas tombol kirim.
Kalimat itu terasa sedikit aneh. Sebab saat ini, justru dirinyalah yang sedang berusaha keras agar tidak terlalu khawatir.
Namun Zahra tetap mengirimkannya.
Tidak lama kemudian, layar teleponnya menyala.
Alhamdulillah. Kalau sudah sampai kabari lagi. Jangan malu bertanya kalau tidak tahu jalan.
Zahra tersenyum kecil.
Ibunya mengenalnya dengan baik. Sejak kecil, Zahra memang lebih memilih tersesat beberapa menit daripada harus bertanya kepada orang yang tidak dikenalnya. Ia sering merasa takut suaranya terdengar terlalu pelan, pertanyaannya dianggap aneh, atau orang lain menertawakan ketidaktahuannya.
Padahal sebagian besar orang mungkin tidak memikirkan sejauh itu.
Ketakutan sering kali tumbuh bukan karena apa yang benar-benar dilakukan orang lain, melainkan karena kemungkinan-kemungkinan buruk yang diciptakan pikiran sendiri.
“Sebentar lagi sampai, Mbak.”
Suara pengemudi membuyarkan lamunannya.
Zahra menoleh ke depan. “Masih jauh, Pak?”
“Tidak terlalu. Kalau jalannya tidak macet, mungkin sekitar dua puluh menit.”
“Baik, Pak.”
Ia kembali menghadap jendela.
Dua puluh menit.
Angka itu terdengar singkat, tetapi membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Dua puluh menit lagi ia akan melihat tempat yang selama ini hanya ia kenal melalui gambar di internet, cerita gurunya, dan brosur penerimaan mahasiswa baru yang pernah dibawanya pulang dari sekolah.
UIN Walisongo.
Nama itu telah beberapa kali ia tulis di buku catatan ketika masih duduk di bangku sekolah. Pernah pula ia menuliskannya di selembar kertas kecil, lalu menyelipkan kertas tersebut di antara halaman Al-Qur’an.
Bukan karena ia yakin akan diterima.
Justru karena saat itu ia takut harapannya terlalu besar.
Perguruan tinggi terasa seperti tempat yang jauh dari kehidupannya. Di keluarganya, tidak banyak yang pernah merasakan duduk di ruang kuliah. Sebagian besar kerabatnya bekerja setelah lulus sekolah, menikah, membantu orang tua di kebun, atau merantau ke kota untuk mencari penghasilan.
Zahra tidak menganggap pilihan itu lebih rendah.
Namun di dalam dirinya, selalu ada keinginan untuk belajar lebih jauh.
Ia ingin memahami agama bukan hanya sebagai kumpulan nasihat yang didengar di pengajian, melainkan sebagai ilmu yang dapat dipelajari, dipahami, dan diajarkan kembali. Ia ingin menjadi pendidik yang tidak sekadar meminta murid menghafal, tetapi mampu membantu mereka menemukan makna.
Keinginan itu tumbuh perlahan.
Bermula dari musala kecil di desanya.
Ketika masih sekolah dasar, Zahra sering membantu guru ngaji membimbing anak-anak yang lebih kecil membaca huruf hijaiyah. Awalnya ia hanya diminta menemani. Namun setiap kali seorang anak berhasil membaca satu kata dengan benar, Zahra merasakan kebahagiaan yang tidak dapat dijelaskan.
Ada sesuatu yang menyenangkan ketika melihat orang lain memahami hal yang sebelumnya terasa sulit.
Sejak saat itu, ia mulai membayangkan dirinya berdiri di depan kelas.
Bukan kelas yang megah.
Barangkali hanya ruang sederhana dengan papan tulis yang catnya mulai terkelupas. Namun di ruangan itu, ia ingin membuat setiap anak merasa bahwa belajar agama bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Keinginan itu yang membawanya memilih Pendidikan Agama Islam.
Keinginan itu pula yang akhirnya membawanya menuju UIN Walisongo.
Mobil melambat ketika memasuki jalan yang lebih ramai.
Bangunan-bangunan tampak semakin tinggi. Angkutan umum berhenti di tepi jalan. Pedagang menawarkan minuman dingin kepada pengendara. Di beberapa sudut, Zahra melihat anak-anak muda mengenakan jaket almamater, membawa map, atau berjalan sambil menenteng helm.
Ia memperhatikan mereka dengan diam-diam.
Mereka tampak berbeda dari pelajar di desanya.
Cara berjalan mereka lebih cepat. Cara berbicara mereka terdengar percaya diri. Beberapa orang mengenakan pakaian yang rapi dan membawa laptop di dalam tas modern. Ada pula yang berbicara menggunakan istilah-istilah yang tidak dipahami Zahra saat mereka berpapasan dengan mobil.
Tiba-tiba Zahra menunduk melihat dirinya sendiri.
Ia mengenakan gamis berwarna cokelat muda yang dibelikan ibunya menjelang keberangkatan. Jilbabnya sederhana. Sepatunya bukan keluaran terbaru. Tas di pangkuannya telah digunakan sejak tahun terakhir sekolah menengah.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa, ia merasa penampilannya terlalu sederhana.
Bagaimana kalau teman-teman kuliahku jauh lebih pintar?
Bagaimana kalau mereka sudah terbiasa menggunakan laptop, sedangkan aku masih sering mengetik terlalu lama?
Bagaimana kalau mereka berbicara dengan lancar saat diskusi, sedangkan aku bahkan sulit memperkenalkan diri di depan orang banyak?
Zahra menggenggam tali tasnya.
Pikiran-pikiran itu muncul satu demi satu, semakin lama semakin memenuhi kepalanya.
Ia teringat pada laptop milik sepupunya yang pernah ia pinjam untuk mendaftar kuliah. Saat itu Zahra membutuhkan waktu hampir setengah hari hanya untuk memindahkan berkas, memperkecil ukuran dokumen, dan memastikan semua data telah diisi dengan benar.
Sepupunya sempat tertawa ketika Zahra salah menekan tombol.
Tidak bermaksud mengejek, mungkin.
Namun sejak saat itu, Zahra selalu merasa bahwa dunia perkuliahan akan dipenuhi orang-orang yang telah memahami banyak hal, sementara dirinya baru mulai mengenal semuanya.
Mobil kembali berjalan.
Zahra menatap pantulan wajahnya di kaca jendela.
Apakah aku benar-benar pantas berada di sana?
Pertanyaan itu datang pelan, tetapi terasa tajam.
Ia menelan ludah.
Di pangkuannya, tas kecil masih menyimpan Al-Qur’an pemberian ibunya. Di dompetnya terdapat uang yang dikumpulkan ayah melalui hari-hari panjang bekerja. Di dalam koper ada pakaian yang dilipat berkali-kali oleh ibunya agar terlihat rapi.
Ia tidak datang dengan tangan kosong.
Barangkali ia memang tidak membawa laptop mahal, pakaian baru, atau pengalaman tinggal di kota. Namun ia membawa sesuatu yang tidak terlihat: ketekunan yang diajarkan ayah, doa yang diberikan ibu, dan keberanian yang tumbuh dari kehidupan sederhana.
Zahra mengingat perkataan ayahnya sekali lagi.
Kami tidak mengirimmu untuk menjadi orang lain. Kami mengirimmu supaya kamu menemukan dirimu sendiri.
Ia mengembuskan napas perlahan.
Tidak ada gunanya membandingkan halaman pertama perjalanannya dengan halaman kesekian perjalanan orang lain.
Bisa jadi mahasiswa yang terlihat percaya diri itu pernah menangis semalaman sebelum meninggalkan rumah. Bisa jadi pemilik laptop yang tampak mahal telah menabung bertahun-tahun untuk membelinya. Bisa jadi orang yang berbicara lancar dalam diskusi pernah berkali-kali melakukan kesalahan sebelum akhirnya berani.
Zahra hanya melihat penampilan luar mereka.
Ia tidak mengetahui cerita yang mereka bawa.
Sama seperti mereka tidak mengetahui bahwa Zahra datang dari sebuah rumah kecil di lereng gunung dengan doa seluruh keluarganya di dalam dada.
“Sudah kelihatan, Mbak.”
Pengemudi menunjuk ke arah depan.
Zahra segera mengangkat kepala.
Di antara kendaraan yang bergerak perlahan, sebuah tulisan mulai terlihat dari kejauhan.
UIN WALISONGO.
Untuk sesaat, suara kendaraan di sekelilingnya terasa mengecil.
Zahra memandang tulisan itu tanpa berkedip.
Inilah tempat yang selama ini hanya ia lihat melalui layar telepon genggam. Tempat yang namanya berulang kali ia ucapkan dalam doa. Tempat yang ia pilih pada lembar pendaftaran dengan tangan sedikit gemetar.
Tempat yang kini berdiri nyata di hadapannya.
Jantungnya berdegup lebih kuat.
Ia teringat malam ketika pengumuman kelulusan dibuka.
Saat itu jaringan internet di rumahnya tidak stabil. Zahra dan adiknya harus berdiri di dekat jendela sambil mengangkat telepon genggam agar sinyalnya muncul. Halaman pengumuman berulang kali gagal terbuka.
Ia hampir menyerah.
Kemudian, setelah menunggu cukup lama, layar itu akhirnya menampilkan namanya.
Azzahra Nabila Rahmani.
Diterima.
Pendidikan Agama Islam.
UIN Walisongo.
Zahra membaca tulisan itu berkali-kali karena takut salah memahami. Ibunya memanggil ayah dari luar rumah. Adiknya melompat-lompat sambil berteriak bahwa Kak Zahra akan menjadi mahasiswa.
Ayah tidak berkata banyak.
Ia hanya tersenyum, mengucapkan syukur, lalu masuk ke kamar sebentar.
Beberapa menit kemudian, Zahra melihat ayah melaksanakan salat dua rakaat sendirian.
Kenangan itu kini kembali memenuhi kepalanya.
Gerbang kampus semakin dekat.
Kendaraan berhenti sebentar karena petugas mengatur arus lalu lintas. Dari dalam mobil, Zahra dapat melihat orang-orang keluar masuk. Ada mahasiswa yang berjalan sendirian. Ada yang datang bersama orang tua. Ada pula yang membawa koper seperti dirinya.
Pemandangan itu membuat Zahra sedikit tenang.
Ternyata bukan hanya dirinya yang datang dengan rasa canggung.
Seorang perempuan muda berdiri tidak jauh dari gerbang sambil memeluk ibunya. Di samping mereka terdapat dua koper besar. Wajah perempuan itu tampak berusaha tersenyum, tetapi matanya merah.
Di sisi lain, seorang ayah sibuk mengikat barang bawaan anaknya di atas sepeda motor. Anak laki-laki itu beberapa kali berkata bahwa tali tersebut sudah cukup kuat, tetapi ayahnya terus memeriksa kembali.
Zahra memperhatikan mereka.
Setiap orang membawa bentuk perpisahannya masing-masing.
Ada yang datang dengan mobil.
Ada yang datang dengan sepeda motor.
Ada yang membawa koper besar.
Ada yang hanya membawa tas punggung.
Ada yang tampak percaya diri.
Ada yang berdiri kebingungan sambil membaca petunjuk arah.
Tidak semua orang datang melalui jalan yang sama.
Tidak semua orang memperoleh fasilitas yang sama.
Namun pada pagi itu, mereka berdiri di depan gerbang yang sama.
Gerbang yang tidak menanyakan dari desa atau kota mana seseorang berasal.
Gerbang yang tidak menghitung berapa harga pakaian yang dikenakan atau merek telepon genggam yang dibawa.
Gerbang itu hanya terbuka bagi siapa pun yang bersedia masuk dan belajar.
Mobil berbelok perlahan mendekati area kampus.
Zahra menempelkan telapak tangannya pada kaca jendela.
Ia belum turun, tetapi perasaannya telah berubah.
Gerbang UIN Walisongo bukan sekadar susunan tembok, besi, dan tulisan nama universitas. Bagi Zahra, gerbang itu tampak seperti batas antara kehidupan yang telah dikenalnya dan kehidupan yang belum pernah dijalani.
Di belakangnya terdapat desa, rumah, dan masa kecil.
Di hadapannya terdapat ilmu, perjuangan, dan masa depan.
Di balik gerbang itu ada ilmu yang harus ia perjuangkan.
Bukan hanya ilmu yang tertulis di buku atau disampaikan dosen di ruang kuliah, tetapi juga ilmu tentang menghadapi kegagalan, membagi waktu, memahami perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.
Di balik gerbang itu ada cita-cita yang harus diwujudkan.
Cita-cita yang dahulu hanya berani ditulis pada selembar kertas kecil. Cita-cita menjadi seorang pendidik yang mampu membawa manfaat. Cita-cita untuk kembali ke desa bukan hanya dengan gelar, tetapi juga dengan pengetahuan yang dapat dibagikan.
Di balik gerbang itu ada harapan orang tua yang harus dijaga.
Harapan yang tidak pernah mereka jadikan beban melalui tuntutan. Harapan yang hadir dalam bentuk bekal makanan, uang cadangan, nasihat, dan doa-doa panjang selepas salat.
Mobil akhirnya berhenti di salah satu area penurunan penumpang.
“Kita sudah sampai, Mbak.”
Zahra terdiam beberapa detik.
Kalimat itu sederhana.
Namun mendengarnya membuat tenggorokannya terasa kering.
Sudah sampai.
Berarti perjalanan dari rumah benar-benar telah selesai.
Dan perjalanan yang lain akan segera dimulai.
Pengemudi turun untuk membuka bagasi. Zahra memasukkan telepon genggam ke dalam tas, lalu membuka pintu mobil.
Udara kota langsung menyambutnya.
Lebih panas daripada udara di desanya. Terdapat aroma aspal, debu, makanan dari pedagang di sekitar jalan, serta wangi parfum orang-orang yang berlalu-lalang.
Suara kendaraan terdengar lebih jelas.
Zahra menurunkan satu kaki.
Kemudian kaki yang lain.
Ia berdiri di luar mobil dengan tas di bahu.
Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.
Dari tempatnya berdiri, gerbang UIN Walisongo terlihat jauh lebih besar daripada ketika dipandang dari balik kaca. Mahasiswa berjalan melalui gerbang itu dalam kelompok-kelompok kecil. Sebagian tertawa, sebagian menunduk membaca pesan di telepon, dan sebagian berbicara sambil menunjuk arah gedung.
Zahra mendongak.
Tulisan nama kampus terpampang di hadapannya.
Ia mengeja nama itu di dalam hati.
UIN Walisongo.
Pak pengemudi menurunkan koper birunya dari bagasi.
“Ini kopernya, Mbak.”
Zahra segera mendekat. “Terima kasih, Pak.”
“Sudah tahu nanti masuk lewat mana?”
Zahra menoleh ke arah gerbang, lalu menggeleng pelan.
“Belum begitu tahu, Pak. Katanya nanti saya harus menuju tempat penerimaan mahasiswa baru dulu, lalu ke Ma’had.”
“Coba tanya petugas di depan. Jangan jalan terlalu jauh sambil bawa koper. Biasanya ada yang mengarahkan.”
Zahra mengangguk. “Baik, Pak.”
Setelah membayar ongkos dan mengucapkan terima kasih, ia berdiri sendirian bersama kopernya.
Mobil yang membawanya dari desa mulai bergerak meninggalkan tempat itu.
Zahra mengikuti kendaraan tersebut dengan pandangan hingga menghilang di antara mobil-mobil lain.
Tiba-tiba ia merasakan kesunyian yang aneh.
Bukan karena sekelilingnya benar-benar sepi. Justru tempat itu dipenuhi suara. Namun tidak ada satu pun suara yang dikenalnya.
Tidak ada ibu yang memanggil dari dapur.
Tidak ada ayah yang menanyakan uang simpanannya.
Tidak ada adik yang berjalan terlalu dekat hanya untuk mengganggu.
Sekarang ia benar-benar sendiri.
Zahra menarik gagang koper, tetapi rodanya tersangkut pada permukaan jalan yang tidak rata.
Ia menarik sekali lagi.
Koper itu bergerak dengan bunyi kasar.
Seorang mahasiswa yang berjalan di belakangnya harus sedikit menghindar.
“Maaf,” kata Zahra cepat.
“Tidak apa-apa,” jawab mahasiswa itu sambil tersenyum.
Hanya sebuah jawaban sederhana.
Namun senyum orang asing tersebut membuat ketegangan di bahu Zahra sedikit berkurang.
Ia mulai berjalan menuju gerbang.
Langkah pertamanya terasa canggung. Gagang koper sedikit bergoyang. Tas di bahunya terasa lebih berat daripada saat ia masih berada di rumah.
Di sebelah kanan, beberapa mahasiswa duduk sambil membuka laptop. Mereka mendiskusikan sesuatu dengan serius. Salah seorang menunjuk layar, sementara yang lain menulis di buku catatan.
Di sebelah kiri, seorang perempuan berhijab membaca buku sambil menunggu temannya. Ia sesekali mengangkat kepala, memperhatikan orang yang lewat, lalu kembali membaca.
Tidak jauh dari sana, sekelompok mahasiswa berbincang menggunakan bahasa daerah yang tidak dipahami Zahra. Mereka tertawa dengan akrab, seolah telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Zahra memperlambat langkah.
Semua orang tampak memiliki tempat.
Sementara dirinya masih berdiri di antara keinginan untuk maju dan dorongan untuk bersembunyi.
Ia melihat pakaian yang dikenakan mahasiswa lain. Beberapa tampak sangat rapi. Tas mereka bagus. Sepatu mereka bersih. Cara bicara mereka lancar.
Zahra menunduk melihat sepatu hitamnya sendiri.
Ada sedikit debu menempel di bagian ujung.
Tanpa sadar, ia menggesekkan kedua sepatunya agar debu itu hilang.
Perasaan kecil kembali muncul.
Ia membayangkan nanti ketika dosen meminta mahasiswa memperkenalkan diri. Apa yang akan ia katakan?
Namaku Azzahra Nabila Rahmani. Aku berasal dari sebuah desa kecil di pegunungan.
Apakah mereka akan menganggap desanya terlalu terpencil?
Bagaimana jika mereka bertanya tentang sekolah asalnya?
Bagaimana jika mereka telah membaca banyak buku, mengikuti berbagai pelatihan, dan memiliki prestasi yang jauh lebih banyak?
Zahra berhenti di dekat sisi gerbang.
Arus mahasiswa terus bergerak di hadapannya.
Beberapa orang harus berjalan memutar karena koper Zahra sedikit menghalangi jalan. Ia segera memindahkannya ke pinggir.
Dadanya mulai terasa sempit.
Pada saat itulah ia melihat seorang mahasiswa laki-laki berlari kecil sambil membawa setumpuk kertas. Sebagian kertasnya jatuh tertiup angin.
Mahasiswa itu segera berjongkok dan berusaha mengambilnya. Namun angin membawa dua lembar kertas ke arah Zahra.
Tanpa berpikir panjang, Zahra meninggalkan gagang kopernya dan mengejar kertas tersebut. Satu lembar berhenti di dekat pot tanaman. Lembar lainnya hampir masuk ke jalan.
Zahra berhasil menangkapnya.
“Ini, Kak,” katanya ketika mahasiswa itu mendekat.
“Wah, terima kasih banyak.”
Mahasiswa tersebut menerima kertas dengan napas terengah-engah.
“Sama-sama.”
“Mahasiswa baru?”
Zahra mengangguk.
“Kelihatan dari kopernya,” katanya sambil tersenyum. “Mau ke mana?”
“Ke tempat penerimaan mahasiswa baru, Kak. Setelah itu katanya menuju Ma’had.”
“Oh, lewat sana.” Ia menunjuk sebuah jalur di dalam area kampus. “Nanti lurus saja sampai ada petugas memakai tanda pengenal. Kalau bingung, tanya. Hari ini banyak kakak pendamping.”
“Baik. Terima kasih, Kak.”
“Iya. Selamat datang di UIN Walisongo.”
Mahasiswa itu kemudian berjalan cepat sambil memastikan seluruh kertasnya telah terkumpul.
Zahra berdiri memandang punggungnya.
Selamat datang.
Dua kata itu terasa seperti sebuah penerimaan kecil.
Mungkin ia memang belum mengenal siapa pun.
Namun bukan berarti tempat ini menolaknya.
Ia kembali menggenggam gagang koper.
Sebelum melanjutkan langkah, Zahra menoleh ke arah gerbang.
Orang-orang terus keluar masuk.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Mahasiswa yang tampak percaya diri itu belum tentu selalu percaya diri.
Mahasiswa yang membawa laptop belum tentu tidak pernah mengalami kesulitan.
Mahasiswa yang tertawa bersama teman-temannya mungkin pernah datang sendirian pada hari pertama, sama seperti dirinya.
Setiap orang memiliki cerita perjuangan yang tidak selalu tampak dari luar.
Ada yang harus bekerja sambil kuliah.
Ada yang datang dari pulau yang jauh.
Ada yang menjadi orang pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi.
Ada yang kehilangan orang terdekat sebelum sempat menyaksikan hari keberangkatannya.
Ada yang membawa harapan satu keluarga.
Ada pula yang sedang mencari kembali harapan di dalam dirinya sendiri.
Zahra bukan satu-satunya orang yang merasa takut.
Ia hanya satu dari sekian banyak manusia yang sedang belajar memulai.
Kesadaran itu membuat langkahnya terasa lebih ringan.
Ia tidak harus menjadi seperti mereka.
Ia hanya perlu memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk bertumbuh.
Tidak semua orang datang dengan fasilitas yang sama.
Tidak semua orang memulai dari pengetahuan yang sama.
Namun setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba, gagal, memperbaiki diri, dan berkembang.
Kesempatan itulah yang kini berada di hadapan Zahra.
Ia mengeluarkan telepon genggam dan memotret gerbang kampus.
Foto pertama sedikit miring.
Zahra mengulanginya.
Kali ini tulisan UIN Walisongo terlihat lebih jelas.
Ia mengirimkan foto itu kepada keluarganya.
Saya sudah sampai.
Beberapa detik kemudian, pesan dari adiknya masuk lebih dahulu.
Wah besar sekali, Kak.
Kemudian pesan dari ibunya.
Alhamdulillah. Sudah makan belum?
Zahra tertawa pelan. Di tempat sebesar apa pun, pertanyaan seorang ibu tetap sama.
Sudah sarapan, Bu. Nanti saya cari tempat lapor dulu.
Ayah tidak langsung membalas.
Namun beberapa menit kemudian, sebuah pesan singkat muncul.
Bismillah. Belajar yang sungguh-sungguh. Jangan lupa tujuanmu.
Zahra membaca kalimat itu dua kali.
Jangan lupa tujuanmu.
Ia memandang kembali gerbang kampus.
Tujuannya bukan untuk terlihat paling pintar.
Bukan untuk memiliki barang yang sama seperti orang lain.
Bukan pula untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada siapa pun.
Tujuannya adalah belajar.
Bertumbuh.
Menjaga amanah.
Dan suatu hari nanti, pulang membawa manfaat.
Zahra memasukkan telepon genggam ke dalam tas.
Ia lalu melangkah melewati gerbang UIN Walisongo.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah berikutnya.
Tidak ada suara tepuk tangan.
Tidak ada musik yang mengiringi.
Tidak ada sesuatu yang berubah secara ajaib ketika kakinya melewati batas gerbang.
Namun di dalam diri Zahra, sebuah dunia baru baru saja dibuka.
Ia merasa seolah sedang meninggalkan bagian dirinya yang selalu takut dianggap tidak cukup baik. Bukan berarti rasa takut itu langsung hilang. Rasa tersebut masih ada, berjalan bersamanya.
Namun kini Zahra tidak lagi membiarkannya menentukan arah.
Ia terus melangkah.
Di dalam kampus, suasana terasa semakin hidup. Pohon-pohon tumbuh di sepanjang jalan. Gedung-gedung berdiri di kejauhan. Beberapa mahasiswa duduk di bawah naungan pohon sambil berdiskusi. Ada yang membawa buku tebal, ada yang berjalan tergesa-gesa, dan ada yang berhenti sekadar untuk membeli minuman.
Zahra memperhatikan semuanya dengan mata berbinar.
Mungkin suatu hari ia akan berjalan di jalan yang sama sambil membawa tugas kuliah.
Mungkin suatu hari ia akan duduk di bawah salah satu pohon itu bersama teman-temannya.
Mungkin ia akan berlari karena terlambat masuk kelas, mengeluh karena tugas menumpuk, atau merasa gugup ketika harus melakukan presentasi.
Mungkin ada hari ketika ia ingin menyerah.
Namun hari ini, semuanya masih menjadi kemungkinan.
Halaman-halaman kosong yang belum ditulis.
Zahra tidak tahu persis cerita seperti apa yang akan menunggunya.
Ia hanya tahu bahwa untuk sampai pada hari ini, ayah dan ibunya telah melakukan banyak pengorbanan.
Maka ia tidak ingin menyia-nyiakan langkah pertama tersebut hanya karena merasa berbeda.
Seorang petugas perempuan yang berdiri tidak jauh dari jalur masuk melambaikan tangan.
“Mahasiswa baru, Mbak?”
Zahra mengangguk dan berjalan mendekat.
“Iya, Kak.”
“Fakultas apa?”
“Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pendidikan Agama Islam.”
“Baik. Untuk pemeriksaan berkas, nanti ikuti jalur sebelah kanan. Setelah selesai, yang tinggal di Ma’had akan diarahkan ke tempat berikutnya.”
“Baik, Kak.”
“Datang sendiri?”
Zahra sempat terdiam.
“Iya.”
Petugas itu tersenyum. “Hebat. Semangat, ya. Kalau bingung, jangan sungkan bertanya.”
Kata hebat membuat Zahra sedikit malu.
Ia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang hebat.
Ia hanya datang karena harus datang.
Namun mungkin keberanian memang sering tidak terasa luar biasa bagi orang yang sedang menjalaninya. Keberanian hanya terasa seperti satu langkah kecil yang harus dilakukan karena tidak ada jalan lain selain maju.
“Terima kasih, Kak,” jawabnya.
Zahra mengikuti arah yang ditunjukkan.
Di sepanjang perjalanan, ia beberapa kali berhenti untuk membaca papan petunjuk. Koper birunya terus berbunyi ketika melewati permukaan jalan yang tidak rata. Keringat mulai muncul di dahinya, tetapi ia tidak terlalu memedulikannya.
Di hadapannya, gedung-gedung kampus berdiri seolah menyimpan ribuan cerita.
Ada cerita tentang mahasiswa yang datang dengan impian besar.
Tentang tugas yang dikerjakan hingga larut malam.
Tentang diskusi yang mengubah cara pandang.
Tentang kegagalan yang diam-diam mengajarkan ketabahan.
Tentang pertemanan yang bermula dari pertanyaan sederhana.
Tentang seseorang yang menemukan keberanian setelah berkali-kali merasa tidak mampu.
Zahra belum menjadi bagian dari cerita-cerita itu.
Namun mulai hari ini, ia akan menuliskan ceritanya sendiri.
Angin berembus melewati halaman kampus.
Ujung jilbabnya bergerak perlahan.
Zahra berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
Gerbang UIN Walisongo masih terlihat dari tempatnya berdiri.
Dari arah dalam, gerbang itu tampak berbeda.
Ketika tadi ia berada di luar, gerbang itu terlihat seperti batas besar yang membuatnya ragu untuk masuk.
Kini, setelah berhasil melewatinya, gerbang tersebut tampak seperti pintu biasa yang terbuka lebar.
Zahra tersenyum.
Barangkali begitulah kebanyakan ketakutan.
Dari kejauhan, ia terlihat besar dan sulit dilewati. Namun setelah seseorang memberanikan diri melangkah, ia menyadari bahwa penghalang terbesar bukanlah pintu itu sendiri.
Melainkan keraguan di dalam diri.
Zahra kembali menghadap ke depan.
Perjalanan dari desa telah membawanya sampai di sini.
Namun perjalanan sebenarnya baru akan dimulai.
Ia masih harus mengenal kampus.
Mengikuti perkuliahan.
Beradaptasi dengan kehidupan kota.
Menemukan teman.
Dan yang paling dekat, ia harus memasuki tempat yang akan menjadi rumah barunya selama masa awal perkuliahan.
Ma’had Al-Jami’ah.
Mendengar nama itu diucapkan oleh petugas tadi membuat rasa penasaran sekaligus gugup kembali muncul.
Seperti apa kamarnya?
Siapa yang akan tinggal bersamanya?
Apakah teman-temannya nanti mudah diajak berbicara?
Bagaimana aturan di sana?
Apakah ia akan sanggup mengikuti seluruh kegiatannya?
Pertanyaan-pertanyaan baru mulai memenuhi kepala Zahra.
Namun kali ini, ia tidak membiarkan pertanyaan itu menghentikan langkahnya.
Ia menarik gagang koper dan berjalan mengikuti petunjuk menuju tempat pemeriksaan berkas.
Di dalam tasnya, Al-Qur’an kecil pemberian ibunya tetap tersimpan.
Di dalam ingatannya, nasihat ayah terus menyertai.
Di dalam hatinya, rumah kecil di lereng gunung tetap berdiri.
Zahra memang datang sendirian.
Namun ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Ada doa ibu yang berjalan bersamanya.
Ada kerja keras ayah yang menopang setiap langkahnya.
Ada harapan keluarga yang menjelma menjadi keberanian.
Dan ada keyakinan bahwa Allah tidak membawanya sampai ke gerbang ini hanya untuk membuatnya berhenti di depan pintu.
Hari itu, di antara ribuan langkah yang melintasi halaman UIN Walisongo, langkah Zahra mungkin terlihat sangat kecil.
Tidak ada yang memperhatikannya secara khusus.
Tidak ada yang mengetahui betapa banyak ketakutan yang baru saja ia kalahkan.
Namun bagi Zahra, langkah tersebut adalah awal dari sesuatu yang besar.
Sebuah langkah menuju ilmu yang harus diperjuangkan.
Sebuah langkah menuju cita-cita yang harus diwujudkan.
Sebuah langkah untuk menjaga harapan orang-orang yang dicintainya.
Dan sebuah langkah kecil menuju langit yang lebih luas.
