Delegasi Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang melakukan benchmarking pengelolaan ma’had di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 27–29 Juli 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk mempelajari bagaimana ma’had dikelola bukan sekadar sebagai tempat tinggal mahasiswa, melainkan sebagai bagian inti dari sistem pendidikan universitas yang memadukan pembelajaran agama, pembinaan karakter, pengembangan bahasa, pendampingan, dan layanan berbasis teknologi.

Delegasi dipimpin oleh Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang, Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag. Dalam pertemuan tersebut, delegasi berdiskusi dengan Prof. Dr. Wildana, M.Ag., Mudir Ma’had, dan jajaran pengelola UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengenai tata kelola, sumber daya manusia, kurikulum, kesantrian, sarana-prasarana, evaluasi pembelajaran, serta digitalisasi layanan ma’had.

Ma’had Bukan Sekadar Tempat Tinggal Mahasiswa

Benchmarking ini dilatarbelakangi kebutuhan Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang untuk memperkuat sistem pembinaan mahasiswa secara lebih terstruktur, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan institusi. Pengelolaan ma’had dalam skala besar tidak cukup hanya mengandalkan program keagamaan atau fasilitas hunian. Diperlukan pembagian peran yang jelas, kurikulum berdasarkan kemampuan mahasiswa, pendampingan yang dekat, evaluasi berkala, dan sistem informasi yang menghubungkan seluruh layanan.

Model yang dikembangkan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menempatkan ma’had sebagai identitas sekaligus distingsi universitas. Orientasinya adalah mempertemukan keilmuan dan agama melalui pembentukan mahasiswa yang memiliki kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, kemampuan akademik, dan wawasan profesional. Penguatan bahasa Arab dan Inggris juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya mendukung internasionalisasi universitas.

Pembinaan tersebut dijalankan melalui struktur berjenjang. Ma’had UIN Maulana Malik Ibrahim Malang didukung seorang mudir, 13 anggota Dewan Pengasuh, tujuh staf administrasi, 17 murabbi dan murabbiah, serta 389 musyrif dan musyrifah. Rasio pendampingannya sekitar satu musyrif atau musyrifah untuk 13 mahasantri. Pola ini memungkinkan pembinaan berlangsung dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa, mulai dari tingkat kamar, mabna, hingga pengelolaan ma’had secara keseluruhan.

Pendamping tidak hanya bertugas mengawasi kedisiplinan. Mereka menjadi penghubung informasi, pengontrol pembiasaan karakter, pendamping proses adaptasi, sekaligus kader pemimpin. Dengan demikian, pembentukan karakter tidak hanya dinilai pada akhir program, tetapi dipantau melalui rutinitas ibadah, tata tertib, interaksi sosial, kegiatan akademik, dan keteladanan sehari-hari.

Kurikulum Berjenjang dan Digitalisasi Memperkuat Pembinaan

Salah satu praktik yang menjadi perhatian delegasi adalah pembelajaran Ta’lim Al-Afkar yang disusun berdasarkan kemampuan awal mahasantri. Penempatan kelas dilakukan melalui placement test, sehingga mahasiswa tidak menerima materi yang seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan tingkat penguasaan mereka.

Pembelajaran dibagi menjadi lima jenjang, yaitu Tamhidi, Asasi, Mutawassith, Mutaqoddim, dan Ma’had Aly. Pada tingkat dasar, mahasiswa mempelajari fikih ibadah, akidah, akhlak, makna bacaan salat, dan hafalan hadis. Pada jenjang lebih tinggi, pembelajaran berkembang menuju kemampuan membaca dan menganalisis kitab, menerjemahkan, menyusun karya tulis, serta mengikuti pengkaderan ulama melalui kemitraan dengan pesantren. Mahasantri yang belum memenuhi standar tidak harus mengulang seluruh program, tetapi dapat mengikuti remedial pada kompetensi yang belum tercapai.

Data evaluasi menunjukkan bahwa dari 4.914 peserta penilaian, sebanyak 4.018 mahasantri dinyatakan lulus, sedangkan 896 lainnya belum memenuhi standar. Tingkat kelulusan mencapai 81,77 persen dengan nilai rata-rata 82,95. Ta’lim Al-Afkar memperoleh nilai rata-rata 86,72, Ta’lim Al-Qur’an 86,11, bahasa Arab 84,63, dan bahasa Inggris 82,87. Komponen ubudiyah memperoleh nilai terendah, yaitu 79,33, sehingga ditetapkan sebagai area yang memerlukan penguatan pembiasaan, monitoring, dan praktik ibadah.

Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya data dalam menentukan prioritas pembinaan. Evaluasi tidak berhenti pada pengumuman kelulusan, tetapi digunakan untuk mengenali aspek yang masih lemah dan menentukan program tindak lanjut.

Pengelolaan data dilakukan melalui Sistem Informasi Ma’had atau SIMA. Sistem ini mengintegrasikan presensi, perizinan, jurnal pembinaan, pelanggaran, penilaian, kelulusan, kepengasuhan, hingga laporan mahasantri. Dashboard juga menampilkan tren kehadiran, capaian program, dan keluhan yang dapat digunakan pengelola serta pimpinan untuk mengambil keputusan.

Selain bidang akademik dan ubudiyah, mahasantri memperoleh ruang untuk mengembangkan minat melalui komunitas riset, halaqah ilmiah, jurnalistik, produksi konten, seni, bahasa, kreativitas, dan kepemimpinan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembinaan ma’had dapat menjadi jembatan antara kedalaman agama, keterampilan sosial, dan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa di ruang publik.

Dari Kunjungan Menuju Agenda Perubahan

Pembelajaran dari Malang dirumuskan menjadi sejumlah praktik yang dapat diadaptasi di UIN Walisongo Semarang. Prioritasnya mencakup penataan tata kelola berjenjang, penyusunan rasio pendampingan yang realistis, pengembangan kurikulum berbasis placement test, kaderisasi musyrif dan musyrifah, pembangunan dashboard data, serta integrasi target pembinaan ma’had dengan kurikulum program studi dan kebijakan universitas.

Dalam notula yang dipimpin dan ditandatanganinya, Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., menempatkan hasil benchmarking ini sebagai dasar penyusunan program penguatan yang konkret dan dapat dipantau. Prioritas awal diarahkan pada pemetaan kondisi eksisting, penataan tata kelola dan standar operasional prosedur, penyusunan kurikulum berjenjang berbasis placement test, serta pembangunan sistem data Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang.

Tindak lanjut dirancang secara bertahap. Dalam tiga bulan pertama, Ma’had disarankan melakukan audit terhadap daya tampung, sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, SOP, dan kebutuhan digital. Pada tahap tiga hingga enam bulan, agenda diarahkan pada penyusunan kurikulum, standar kompetensi, sistem remedial, serta instrumen monitoring karakter.

Pengembangan purwarupa dashboard atau SIMA direncanakan dalam rentang tiga hingga sembilan bulan. Pada tahap berikutnya, Ma’had dapat mengembangkan komunitas riset, jurnalistik, seni, bahasa, dan kaderisasi pendamping. Setelah berjalan selama satu tahun, program perlu dievaluasi berdasarkan hasil belajar, ubudiyah, pembentukan karakter, kepuasan mahasantri, dan kualitas layanan.

Benchmarking ini memberikan pelajaran bahwa keberhasilan ma’had tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan, melainkan oleh konsistensi antara visi, kurikulum, kualitas pendamping, kebiasaan sehari-hari, sistem evaluasi, pengelolaan fasilitas, dan penggunaan data. Praktik dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak dapat dipindahkan secara utuh, tetapi perlu disesuaikan dengan daya tampung, sumber daya, struktur organisasi, dan arah pengembangan UIN Walisongo Semarang.

Pada akhirnya, nilai sebuah benchmarking tidak terletak pada seberapa jauh sebuah delegasi melakukan perjalanan, tetapi pada seberapa nyata pengetahuan yang diperoleh diterjemahkan menjadi perubahan. Ketika pembinaan mahasiswa dikelola sebagai satu ekosistem yang utuh, ma’had dapat berkembang dari sekadar ruang tinggal menjadi ruang pembentukan ilmu, karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *