Pada akhir abad ke-19, tidak semua masyarakat Jawa memiliki kesempatan mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Banyak orang mampu membaca ayat Al-Qur’an, tetapi belum sepenuhnya memahami makna yang terkandung di dalamnya. Di tengah keterbatasan tersebut, Kiai Sholeh Darat hadir dengan langkah penting: menjelaskan ajaran Islam melalui bahasa Jawa yang ditulis menggunakan aksara Arab Pegon.
Nama lengkapnya adalah Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Ia lebih dikenal dengan sebutan Kiai Sholeh Darat karena menetap dan mengembangkan pengajaran Islam di kawasan Darat, Semarang. Sebutan al-Samarani yang tercantum dalam sejumlah karyanya menunjukkan keterikatannya dengan Kota Semarang sebagai pusat aktivitas intelektual dan dakwahnya.
Kiai Sholeh Darat diperkirakan lahir sekitar tahun 1820 dan wafat pada 1903. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki kedekatan dengan perjuangan dan pendidikan Islam. Ayahnya, Kiai Umar, dikenal sebagai ulama yang memiliki hubungan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.
Sejak muda, Sholeh Darat menempuh pendidikan kepada sejumlah ulama di Jawa. Perjalanan keilmuannya kemudian berlanjut ke Makkah, salah satu pusat pendidikan Islam terpenting pada masa itu. Di sana, ia mempelajari tafsir, hadis, fikih, tauhid, tasawuf, dan bahasa Arab serta berinteraksi dengan jaringan ulama Nusantara dan Timur Tengah.
Setelah kembali ke Jawa, Kiai Sholeh Darat tidak hanya mengajar kalangan santri. Ia juga berusaha menyampaikan ilmu agama kepada masyarakat umum yang tidak menguasai bahasa Arab. Pilihan menggunakan bahasa Jawa Pegon kemudian menjadi salah satu ciri utama karya-karyanya.
Menjawab Keterbatasan Pendidikan Masyarakat Jawa
Kiai Sholeh Darat hidup ketika Jawa berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pada masa itu, akses pendidikan formal bagi penduduk pribumi masih sangat terbatas. Pendidikan modern lebih banyak dinikmati kalangan tertentu, sementara masyarakat umum mengandalkan pesantren, masjid, langgar, dan pengajian sebagai tempat belajar.
Pada saat yang sama, sebagian besar kitab keislaman yang digunakan di pesantren ditulis dalam bahasa Arab. Bagi santri yang telah lama belajar, teks Arab dapat dipahami melalui bimbingan guru. Namun, bagi masyarakat di luar pesantren, keterbatasan bahasa menjadi penghalang untuk memahami ajaran agama secara langsung.
Kiai Sholeh Darat melihat persoalan tersebut sebagai masalah pendidikan. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya diajarkan melafalkan ayat, doa, atau bacaan ibadah. Mereka juga perlu memahami makna, tujuan, dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Karena itulah ia menulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Pegon. Pegon merupakan huruf Arab yang disesuaikan untuk menuliskan bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, dan Madura. Dalam lingkungan pesantren, Pegon menjadi sarana untuk memberikan terjemahan, catatan, serta penjelasan terhadap kitab berbahasa Arab.
Penggunaan Pegon oleh Kiai Sholeh Darat bukan sekadar pilihan bentuk tulisan. Langkah tersebut menjadi strategi untuk memperluas akses masyarakat terhadap ilmu agama. Bahasa Jawa ditempatkan bukan hanya sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, tetapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan.
Upaya menyampaikan ajaran Islam melalui bahasa masyarakat setempat dapat disebut sebagai vernakularisasi. Dalam proses ini, pengetahuan tidak hanya diterjemahkan kata demi kata, tetapi juga dijelaskan menggunakan istilah, contoh, dan cara berpikir yang akrab bagi pembaca lokal.
Faid ar-Rahman, Tafsir untuk Masyarakat Jawa
Salah satu karya terpenting Kiai Sholeh Darat adalah Faid ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan. Kitab ini dikenal sebagai salah satu karya awal tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Pegon.
Melalui Faid ar-Rahman, Kiai Sholeh Darat berusaha membuka akses pemahaman Al-Qur’an bagi masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab. Ia tidak hanya menerjemahkan ayat, tetapi juga memberikan penjelasan mengenai makna, pesan moral, hukum, dan kehidupan spiritual manusia.
Tafsir tersebut disusun mengikuti urutan surah dalam Al-Qur’an. Penafsirannya dimulai dari Surah Al-Fatihah, kemudian berlanjut ke surah-surah berikutnya. Namun, karya itu tidak mencakup seluruh Al-Qur’an karena Kiai Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikannya.
Salah satu ciri penting Faid ar-Rahman adalah kuatnya pendekatan tasawuf. Ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dipahami dari sisi hukum dan makna lahiriah, tetapi juga dikaitkan dengan keadaan batin manusia.
Ketika menjelaskan ibadah, misalnya, Kiai Sholeh Darat tidak hanya membahas aturan pelaksanaannya. Ia juga menguraikan pentingnya keikhlasan, kekhusyukan, pengendalian hawa nafsu, dan kebersihan hati. Dengan demikian, agama tidak berhenti pada tindakan formal, tetapi harus menghasilkan perubahan dalam kepribadian seseorang.
Meskipun memiliki corak tasawuf, penafsiran Kiai Sholeh Darat tetap menempatkan syariat sebagai dasar. Pemahaman batin tidak boleh digunakan untuk mengabaikan aturan agama. Menurutnya, kehidupan spiritual harus tumbuh bersama pelaksanaan ibadah dan akhlak yang baik.
Mengajarkan Syariat kepada Masyarakat Awam
Selain tafsir, Kiai Sholeh Darat menulis Majmu’at asy-Syari’ah al-Kafiyah lil ‘Awam. Judul tersebut dapat dimaknai sebagai kumpulan penjelasan syariat yang memadai bagi masyarakat umum.
Kitab itu membahas pengetahuan dasar yang perlu dimiliki seorang Muslim, mulai dari keimanan, bersuci, salat, puasa, zakat, hingga persoalan kehidupan keluarga dan hubungan sosial. Penyajiannya menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat Jawa.
Penggunaan istilah lil ‘awam menunjukkan bahwa kitab tersebut memang ditujukan kepada pembaca yang belum memiliki pendidikan agama mendalam. Namun, kata “awam” tidak dimaksudkan untuk merendahkan masyarakat. Istilah itu menunjukkan sasaran pendidikan yang ingin dijangkau oleh sang ulama.
Kiai Sholeh Darat memahami bahwa masyarakat memerlukan panduan agama yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, ajaran fikih tidak hanya disampaikan sebagai kumpulan hukum, tetapi dihubungkan dengan praktik yang dijumpai dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Karya tersebut memperlihatkan kemampuannya menghubungkan tradisi fikih Mazhab Syafi’i dengan konteks lokal. Ia tetap berpegang pada sumber dan pendapat ulama, tetapi menjelaskannya menggunakan bahasa serta contoh yang dapat dikenali oleh pembaca.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kontekstualisasi tidak berarti mengubah ajaran agama secara sembarangan. Kontekstualisasi dilakukan dengan memahami sumber ajaran sekaligus memahami keadaan masyarakat yang menerima penjelasan.
Munjiyat dan Pendidikan Hati
Perhatian Kiai Sholeh Darat terhadap pembinaan batin terlihat dalam kitab Munjiyat: Methik Saking Ihya’ ‘Ulum ad-Din. Istilah methik saking dalam bahasa Jawa berarti “memetik dari”. Karya itu berisi ajaran yang diambil dan dijelaskan kembali dari Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Imam al-Ghazali.
Kata munjiyat berarti hal-hal yang menyelamatkan. Di dalamnya, Kiai Sholeh Darat membahas sifat dan kebiasaan yang dapat membawa manusia menuju keselamatan spiritual.
Tema-tema yang dibicarakan antara lain tobat, sabar, syukur, tawakal, ikhlas, takut dan berharap kepada Allah, serta pengendalian hawa nafsu. Ia juga menjelaskan bahaya kesombongan, iri hati, riya, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Melalui kitab tersebut, pendidikan agama diarahkan kepada pembentukan kepribadian. Mengetahui hukum agama saja belum dianggap cukup apabila seseorang masih dikuasai oleh sifat buruk.
Bagi Kiai Sholeh Darat, tujuan ilmu adalah perubahan diri. Pengetahuan harus menghasilkan kesadaran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kemauan untuk memperbaiki perilaku.
Pandangan ini menjadikan pendidikan hati sebagai bagian penting dari pemikirannya. Ia tidak memisahkan kecerdasan intelektual dari kematangan moral dan spiritual.
Menyatukan Syariat dan Tasawuf
Corak pemikiran Kiai Sholeh Darat memperlihatkan hubungan yang erat antara syariat dan tasawuf. Syariat mengatur tindakan lahiriah manusia, sementara tasawuf membimbing niat, hati, dan tujuan di balik tindakan tersebut.
Menurutnya, ibadah yang benar harus memenuhi dua dimensi. Pertama, ibadah harus dilakukan sesuai aturan. Kedua, ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang bersih dan menghasilkan akhlak yang baik.
Seseorang dapat saja melaksanakan salat secara teratur, tetapi tujuan pendidikan spiritual belum tercapai apabila ia masih bersikap sombong, merendahkan orang lain, atau melakukan ketidakadilan.
Karena itu, perjalanan mendekatkan diri kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sosial. Kedalaman spiritual harus terlihat dalam kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Pemikiran tersebut juga terlihat dalam karya-karya Kiai Sholeh Darat yang menjelaskan kitab tasawuf klasik, termasuk ajaran Imam al-Ghazali dan Ibnu Athaillah. Ia menyampaikan pemikiran para ulama tersebut dalam bahasa yang lebih dekat dengan pembaca Jawa.
Dengan cara itu, tradisi keilmuan Islam dari Timur Tengah tidak diterima secara pasif. Tradisi tersebut diterjemahkan, dijelaskan, dan dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat Nusantara.
Islam dan Kebudayaan Lokal
Kiai Sholeh Darat menunjukkan bahwa ajaran Islam dapat disampaikan melalui kebudayaan lokal tanpa kehilangan prinsip dasarnya. Bahasa Jawa digunakan sebagai jembatan untuk menjelaskan tauhid, fikih, tafsir, dan tasawuf.
Ia tidak mengganti ajaran Islam dengan adat Jawa. Sebaliknya, ia memanfaatkan unsur budaya yang tidak bertentangan dengan agama sebagai media pendidikan.
Pendekatan ini memperlihatkan adanya perbedaan antara substansi ajaran dan sarana penyampaian. Substansi bersumber dari Al-Qur’an, hadis, dan tradisi keilmuan Islam. Sementara itu, bahasa, aksara, dan contoh kehidupan lokal digunakan sebagai sarana agar ajaran tersebut dapat dipahami.
Kiai Sholeh Darat juga menunjukkan bahwa menjadi ulama yang berakar di lingkungan lokal tidak berarti terputus dari dunia Islam yang lebih luas. Ia belajar di Makkah dan menguasai kitab-kitab Arab, tetapi tetap memusatkan perhatiannya pada kebutuhan masyarakat Jawa.
Posisinya berada di antara dua dunia. Ia terhubung dengan tradisi intelektual Islam internasional sekaligus memahami bahasa dan budaya masyarakat tempat ia mengajar.
Pertemuan Intelektual dengan R.A. Kartini
Nama Kiai Sholeh Darat juga sering dikaitkan dengan Raden Ajeng Kartini. Dalam cerita yang berkembang luas, Kartini pernah mendengarkan penjelasan Kiai Sholeh Darat mengenai Surah Al-Fatihah.
Penjelasan tersebut disebut memberikan kesan mendalam kepada Kartini. Selama ini, ia dapat membaca Al-Qur’an, tetapi belum memperoleh akses yang cukup untuk memahami maknanya.
Kartini kemudian dikisahkan mendorong agar kandungan Al-Qur’an dijelaskan dalam bahasa Jawa. Faid ar-Rahman selanjutnya sering dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kalangan perempuan terdidik seperti Kartini, untuk memahami kitab suci melalui bahasa mereka sendiri.
Cerita lain menyebutkan bahwa sebagian tafsir tersebut diberikan kepada Kartini sebagai hadiah pernikahan. Kisah itu juga kerap dihubungkan dengan ungkapan Al-Qur’an min az-zulumati ila an-nur, dari kegelapan menuju cahaya, yang dianggap memiliki hubungan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Meskipun populer, sejumlah detail dalam cerita tersebut tetap perlu dipelajari secara kritis. Mahasiswa perlu memeriksa apakah informasi berasal dari surat Kartini, catatan keluarga, biografi, penelitian sejarah, atau tradisi lisan.
Hal yang paling penting dari hubungan keduanya adalah persoalan akses terhadap pengetahuan. Kartini mewakili kelompok masyarakat yang ingin memahami ajaran agama, sedangkan Kiai Sholeh Darat menyediakan jalan melalui bahasa yang lebih dapat dijangkau.
Pertemuan tersebut juga memperlihatkan hubungan antara tradisi pesantren dan lingkungan bangsawan Jawa, serta membuka pembicaraan mengenai akses perempuan terhadap pendidikan agama pada masa kolonial.
Ulama yang Membentuk Generasi Berikutnya
Kiai Sholeh Darat tidak hanya dikenal melalui kitab-kitabnya. Ia juga memiliki pengaruh besar sebagai seorang guru. Sejumlah tokoh penting dalam sejarah Islam Jawa sering dikaitkan dengan jaringan keilmuannya.
Di antara nama yang disebut pernah belajar atau memiliki hubungan intelektual dengannya adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Amir Idris Pekalongan, KH Munawwir Krapyak, dan sejumlah ulama Jawa lainnya.
Jaringan tersebut menunjukkan bahwa Semarang pernah menjadi salah satu pusat penting pendidikan Islam. Pengajian Kiai Sholeh Darat mempertemukan santri dari berbagai daerah yang kemudian membangun pesantren dan gerakan pendidikan di tempat masing-masing.
Meski demikian, hubungan guru dan murid setiap tokoh tetap perlu dikaji berdasarkan sumber sejarah. Tradisi lisan pesantren sering menyimpan informasi penting, tetapi harus dibandingkan dengan dokumen, biografi, sanad keilmuan, dan catatan sezaman.
Pengaruh Kiai Sholeh Darat tidak harus selalu dibuktikan melalui hubungan belajar secara langsung. Gagasan, kitab, serta pendekatan pendidikannya juga dapat menyebar melalui jaringan murid dan lembaga pesantren.
Warisan itu kemudian menjadi bagian dari perkembangan Islam di Jawa pada awal abad ke-20.
Relevan bagi Pendidikan Masa Kini
Lebih dari satu abad setelah wafatnya, pemikiran Kiai Sholeh Darat masih relevan. Salah satu pelajaran terpentingnya adalah kewajiban menyampaikan ilmu menggunakan bahasa yang dapat dipahami masyarakat.
Pada masa lalu, hambatan utama adalah keterbatasan penguasaan bahasa Arab. Pada masa kini, hambatan pengetahuan dapat muncul dalam bentuk bahasa akademik yang terlalu rumit, kesenjangan digital, rendahnya literasi, dan banyaknya informasi yang belum terverifikasi.
Semangat Kiai Sholeh Darat dapat diterapkan melalui pembuatan bahan ajar yang komunikatif, penerjemahan karya ilmiah, digitalisasi manuskrip, penyusunan kamus Pegon, serta pengembangan media pembelajaran berbasis budaya lokal.
Namun, penyederhanaan bahasa tidak boleh menghilangkan ketepatan ilmu. Seorang pendidik harus memahami materi secara mendalam sebelum menyampaikannya dalam bentuk yang lebih sederhana.
Kiai Sholeh Darat juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan. Pendidikan harus membentuk kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Dalam konteks perguruan tinggi, pandangan ini penting karena mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi lulusan yang cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang memiliki integritas.
Warisan Literasi Islam Nusantara
Karya-karya Kiai Sholeh Darat memperlihatkan bahwa masyarakat Nusantara memiliki tradisi intelektual yang kaya. Ulama lokal tidak hanya membaca kitab dari luar, tetapi juga menulis, menafsirkan, menerjemahkan, dan menghasilkan pengetahuan sesuai kebutuhan masyarakatnya.
Melalui Faid ar-Rahman, ia memperluas akses terhadap pemahaman Al-Qur’an. Melalui Majmu’at asy-Syari’ah, ia membimbing masyarakat memahami dasar-dasar kehidupan beragama. Melalui Munjiyat, ia mengajarkan pentingnya membersihkan hati dan membentuk akhlak.
Bahasa Jawa Pegon yang digunakannya menjadi bukti bahwa bahasa lokal mampu menjadi media pembahasan ilmu yang mendalam. Karya tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan erat antara pesantren, masyarakat, dan kebudayaan Jawa.
Kiai Sholeh Darat bukan hanya ulama yang hidup pada masa lalu. Ia merupakan contoh seorang intelektual yang mampu membaca kebutuhan zamannya.
Ia memahami bahwa ilmu tidak akan memberi manfaat apabila hanya beredar di kalangan terbatas. Karena itu, ia membawa ajaran Islam keluar dari batas bahasa Arab dan menyampaikannya melalui bahasa masyarakat.
Warisan terbesarnya bukan sekadar kitab yang ditinggalkan, melainkan keberanian untuk menjadikan pengetahuan lebih terbuka, membumi, dan dapat dipahami oleh semua kalangan.
