Kisah Naila dan Sahabatnya Mengaji di Ma’had

Senja turun perlahan di halaman Ma’had UIN Walisongo. Cahaya keemasan menyentuh kubah masjid, sementara angin membawa aroma tanah dan bunga dari taman kecil di depan asrama. Dari kejauhan terdengar suara mahasiswa yang baru kembali dari perkuliahan. Sebagian bergegas menuju kamar, sebagian lainnya duduk sebentar di serambi sambil membuka laptop dan memeriksa tugas.
Di kamar 207, Naila Rahma masih duduk di depan meja belajarnya. Sebuah kitab bersampul kuning pucat terbuka di hadapannya. Tulisan Arab tanpa harakat memenuhi hampir seluruh halaman.
Naila memiringkan kepala ke kanan.
Kemudian ke kiri.
Ia mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh halaman.
“Sudah lima menit kamu menatapnya,” kata Zahra dari tempat tidur. “Apakah kitab itu sudah mengajakmu bicara?”
Naila mengangkat kepala. “Belum. Tapi sepertinya dia sedang menguji keberanianku.”
Zahra tertawa sambil memasukkan buku catatan ke dalam tas kainnya. Kerudung hijaunya telah terpasang rapi. Berbeda dengan Naila yang masih duduk dengan wajah penuh kebingungan, Zahra tampak seperti seseorang yang sudah siap menghadapi kegiatan apa pun.
Di sisi lain kamar, Hana sedang memberi pembatas kecil pada beberapa halaman kitab. Gerakannya pelan dan teratur.
“Kitabnya tidak memakai harakat,” ujar Naila. “Bagaimana kita tahu harus membaca fathah, kasrah, atau dammah?”
Hana menatap kitabnya. “Aku juga belum tahu. Itu yang membuatku takut dipanggil membaca.”
Naila menutup kitabnya setengah hati.
“Kalau nanti aku salah di depan semua orang bagaimana?”
“Kalau kita salah bersama-sama,” sahut Zahra, “berarti tidak ada yang malu sendirian.”
Belum sempat Naila menjawab, terdengar ketukan di pintu.
“Assalamu’alaikum.”
Seorang perempuan berkerudung cokelat muda berdiri di ambang pintu. Tangannya membawa kitab dan beberapa lembar catatan. Senyumnya hangat, tetapi tatapan matanya menunjukkan ketegasan seorang pendamping.
“Wa’alaikumussalam, Miss Fadilah,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Sudah siap mengaji?”
Zahra segera berdiri. “Siap, Miss.”
Naila memeluk kitabnya. “Insyaallah.”
Miss Fadilah tersenyum. “Jawaban ‘insyaallah’ itu terdengar seperti siap, tetapi masih ingin melarikan diri.”
Zahra menahan tawa. Hana menunduk sambil tersenyum kecil.
“Tidak harus langsung bisa,” lanjut Miss Fadilah. “Malam ini kita tidak mencari siapa yang paling pintar. Kita belajar bagaimana memulai.”
Kalimat itu membuat Naila akhirnya berdiri.
Mereka berjalan menuju serambi Ma’had. Langit telah berubah menjadi ungu kebiruan. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan mulai dinyalakan. Di serambi, para mahasantri duduk membentuk setengah lingkaran. Kitab diletakkan di atas meja rendah, sementara pensil dan buku catatan tersusun di sampingnya.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berkerudung biru keabu-abuan datang membawa mushaf Al-Qur’an. Cara berjalannya tenang. Senyumnya lembut dan menenteramkan.
“Setelah pembelajaran kitab, kita lanjutkan dengan murojaah,” katanya. “Silakan siapkan ayat yang sudah ditentukan.”
Ia adalah Miss Fatim, musyrifah yang mendampingi pembelajaran Al-Qur’an.
Mendengar kata murojaah, jantung Naila kembali berdebar. Ia memang pernah menghafalkan ayat yang akan disetorkan, tetapi beberapa bagian mulai terasa samar.
Miss Fatim seolah membaca kegelisahannya.
“Jangan memikirkan seluruh kegiatan dalam satu waktu,” ujarnya. “Hadapi satu halaman, satu ayat, dan satu langkah pada waktunya.”
Naila menarik napas dan membuka kitabnya.
Malam pertama mengaji pun dimulai.

Miss Fadilah menuliskan satu kalimat Arab di papan tulis.
العِلْمُ نُوْرٌ
“Siapa yang ingin mencoba membaca?” tanyanya.
Ruangan mendadak sunyi.
Beberapa mahasantri menunduk. Seseorang di barisan belakang tiba-tiba terlihat sangat sibuk merapikan pensil. Yang lain membalik halaman meskipun belum diminta.
Naila ikut menundukkan kepala. Ia berharap warna kerudung merah mudanya tidak terlalu mencolok.
“Naila,” panggil Miss Fadilah.
Naila mengangkat wajah perlahan.
“Boleh mencoba membaca?”
“Saya, Miss?”
“Iya. Cukup baca semampunya.”
Naila berdiri dengan kitab di kedua tangan. Huruf-huruf yang tadi diam kini terasa seperti bergerak di hadapannya.
“Al… al….”
Suaranya terhenti.
Zahra menatapnya sambil memberi semangat. Hana menggenggam pensil, ikut merasa tegang.
Naila mencoba lagi. “Al-‘ilmu… nuurun.”
“Bagus,” kata Miss Fadilah. “Sekarang coba jelaskan, mengapa kata pertama dibaca al-‘ilmu?”
Naila terdiam.
Ia tahu jawabannya berhubungan dengan tata bahasa Arab, tetapi istilah-istilah yang pernah dipelajarinya mendadak bersembunyi.
“Karena… ada alif lam?” jawabnya ragu.
“Itu salah satu petunjuknya. Coba lihat kedudukannya dalam kalimat.”
Miss Fadilah tidak langsung memberikan jawaban. Ia menunjukkan bentuk kata, tanda yang tersembunyi pada akhir kalimat, dan hubungan antara kata pertama dengan kata berikutnya.
“Ini termasuk isim,” jelasnya. “Dalam kalimat tersebut, kedudukannya sebagai mubtada’. Karena itu, akhirnya dibaca dammah.”
Naila mengangguk, meskipun belum sepenuhnya mengerti.
“Sekarang baca lagi.”
“Al-‘ilmu nuurun.”
“Artinya?”
“Ilmu adalah cahaya.”
Miss Fadilah tersenyum. “Nah, kamu berhasil membaca satu kalimat.”
“Tapi tadi saya banyak salah, Miss.”
“Kesalahanmu membuat kita tahu bagian mana yang perlu dipelajari. Kalau kamu tidak mencoba, kita tidak akan pernah mengetahuinya.”
Zahra mengangkat tangan. “Jadi kitab kuning sebenarnya tidak marah kepada kita, ya, Miss?”
Seluruh ruangan tertawa.
“Kitabnya tidak pernah marah,” jawab Miss Fadilah. “Kalian saja yang terlalu tegang.”
Suasana serambi menjadi lebih ringan.
Malam itu mereka belajar mengenali isim, fi’il, dan huruf. Miss Fadilah memecah kalimat-kalimat panjang menjadi bagian kecil. Setiap kata diteliti bentuk dan kedudukannya. Mahasantri tidak hanya diminta menyalin arti, tetapi juga mencari alasan mengapa sebuah kata dibaca dengan harakat tertentu.
Ketika pembelajaran selesai, halaman kitab Naila dipenuhi tanda-tanda pensil.
“Berantakan sekali,” keluhnya.
“Berantakan hari ini,” kata Zahra, “pintar besok.”
Naila tertawa. Untuk pertama kalinya, kitab di tangannya tidak lagi terasa seperti sesuatu yang menakutkan.

Pada pertemuan berikutnya, Miss Fadilah mengajarkan cara memberi makna di antara baris-baris kitab.
Naila mencoba menulis arti kata dengan ukuran sangat kecil. Namun, ketika sampai di akhir baris, tulisannya justru masuk ke baris berikutnya.
“Kenapa tulisanku semakin kecil sampai hampir tidak bisa kubaca sendiri?” keluhnya.
Zahra menunjukkan kitabnya.
“Punyaku lebih parah. Arti kata pertama sudah berkunjung ke kalimat sebelah.”
Hana menahan senyum. Kitab di hadapannya terlihat jauh lebih rapi. Ia menggunakan beberapa tanda sederhana untuk membedakan arti kata, keterangan tata bahasa, dan catatan tambahan.
Naila membungkuk untuk melihatnya.
“Hana, catatanmu seperti cetakan buku.”
“Aku tidak cepat membaca,” jawab Hana pelan, “tetapi aku suka menata catatan.”
Miss Fadilah yang berjalan di dekat mereka berhenti.
“Itulah pentingnya belajar bersama,” katanya. “Setiap orang memiliki kekuatan yang berbeda.”
Ia kemudian meminta Hana memperlihatkan cara mencatatnya kepada teman-teman.
Wajah Hana langsung berubah tegang.
“Saya menjelaskan di depan, Miss?”
“Tidak harus panjang. Tunjukkan saja caramu.”
Hana berdiri dengan kitab di tangan. Pada awalnya suaranya hampir tidak terdengar.
“Aku… memakai warna berbeda. Merah muda untuk arti kata, biru untuk keterangan nahwu, hijau untuk catatan tambahan, dan kuning untuk bagian yang perlu diulang.”
Zahra mengangkat sebuah penanda warna.
“Kalau warna ini untuk apa?”
“Untuk bagian yang kamu tulis terlalu jauh,” jawab Hana.
Tawa kecil memenuhi ruangan. Hana ikut tertawa, dan ketegangannya perlahan menghilang.
Mereka kemudian berlatih dalam kelompok. Hana membantu menata catatan. Zahra membaca kalimat dengan suara lantang. Naila mencoba menjelaskan maknanya.
Pada satu kalimat, Naila berhenti.
“Miss, kenapa akhir kata ini dibaca kasrah?”
Miss Fadilah mendekat. “Menurutmu, apa kedudukannya?”
Naila meneliti kalimat itu.
“Mungkin karena didahului huruf jar?”
“Betul.”
Wajah Naila langsung berbinar.
Ia membaca ulang kalimat tersebut, kemudian menerjemahkannya secara perlahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat deretan huruf. Ia menemukan hubungan di antara kata-kata dan memahami makna yang tersembunyi di baliknya.
“Ternyata saya bisa memahami maksudnya,” katanya.
“Kemarin kamu hanya melihat huruf-huruf yang sulit,” ujar Miss Fadilah. “Hari ini kamu sudah menemukan makna di baliknya.”
Naila memandangi halaman kitabnya. Coretan-coretan pensil yang semula dianggap berantakan kini terlihat seperti jejak perjalanan. Setiap garis menunjukkan pertanyaan yang pernah muncul. Setiap warna menyimpan pemahaman baru.
Di sudut halaman, ia menulis sebuah kalimat kecil:
Ilmu menjadi terang ketika kita tidak takut bertanya.

Setelah pembelajaran kitab selesai, para mahasantri mengambil mushaf Al-Qur’an. Suasana serambi berubah lebih tenang. Lampu gantung memancarkan cahaya lembut, sementara suara malam terdengar dari taman.
Naila membuka halaman yang telah ditentukan.
Ayat pertama masih lancar.
Ayat kedua juga dapat dibacanya.
Namun, ketika sampai pada ayat berikutnya, ia mendadak lupa.
Naila mengulang dari awal, tetapi kembali berhenti di tempat yang sama.
Miss Fatim duduk di dekatnya.
“Bagian mana yang terasa sulit?”
“Hafalan saya seperti hilang, Miss.”
“Hafalan tidak benar-benar hilang,” jawab Miss Fatim. “Ia hanya membutuhkan jalan untuk ditemukan kembali.”
Miss Fatim mengajarkan pola murojaah sederhana. Ayat dibaca beberapa kali sambil melihat mushaf. Setelah itu, mushaf ditutup dan bacaan diulang. Bagian yang sering keliru diberi tanda agar mendapat perhatian lebih.
“Jangan hanya mengulang bagian yang sudah lancar,” pesan Miss Fatim. “Berikan waktu lebih banyak pada bagian yang sering terlupa.”
Di sebelah Naila, Zahra membaca dengan sangat cepat.
“Pelan, Zahra,” tegur Miss Fatim lembut. “Tujuan murojaah bukan sekadar segera selesai.”
“Saya takut lupa kalau berhenti terlalu lama, Miss.”
“Bacalah dengan tartil. Berikan hak kepada setiap huruf. Kecepatan tanpa ketepatan bukanlah tujuan kita.”
Zahra mengangguk dan mulai mengulang dengan lebih tenang.
Sementara itu, Hana membaca begitu pelan hingga suaranya hampir hilang.
“Aku takut salah,” katanya saat Miss Fatim mendekat.
“Pelan tidak masalah,” ujar Miss Fatim. “Namun jangan biarkan rasa takut menghentikan suaramu.”
Hana menarik napas dan membaca kembali dengan suara lebih jelas.
Kemudian mereka diminta berpasangan untuk saling menyimak. Naila menyimak Zahra, Zahra menyimak Hana, dan Hana menyimak Naila. Ketika salah satu lupa, temannya tidak langsung membacakan seluruh ayat. Mereka hanya memberikan kata awal sebagai petunjuk.
“Kalau aku lupa, beri aku isyarat,” kata Naila kepada Hana.
Hana mengangguk. “Tapi kamu harus berusaha mengingat sambungannya sendiri.”
Ketika Naila kembali terhenti, Hana menyebutkan satu kata.
Ingatan Naila perlahan terbuka. Ia menemukan kembali ayat yang sempat hilang dan melanjutkannya hingga selesai.
“Alhamdulillah,” ucapnya lega.
“Mengulang bukan berarti mundur,” kata Miss Fatim. “Murojaah adalah cara kita menjaga sesuatu yang berharga agar tetap hidup di dalam hati.”
Kalimat itu tinggal lama dalam pikiran Naila.

Beberapa pekan kemudian, hari setoran sorogan tiba.
Daftar nama terpampang di papan. Di satu sisi ruangan, Miss Fadilah menerima setoran kitab kuning. Di sisi lain, Miss Fatim menyimak murojaah Al-Qur’an.
Naila duduk sambil memeluk kitabnya.
“Deg-degan sekali,” bisiknya.
Zahra menatap daftar giliran. “Aku lebih gugup daripada saat presentasi.”
“Kalau presentasi, kita masih bisa melihat layar,” jawab Naila.
Hana menggenggam mushafnya. “Aku takut tiba-tiba lupa ayat.”
Miss Fadilah memandang mereka.
“Tenang. Sorogan bukan tempat untuk mencari siapa yang paling sempurna. Ini kesempatan untuk mengetahui perkembangan kalian.”
Satu per satu mahasantri maju.
Ketika namanya dipanggil, Naila berjalan perlahan menuju meja Miss Fadilah. Ia duduk bersila, membuka halaman yang telah dipersiapkan, lalu menarik napas.
“Bismillah,” katanya.
Kalimat pertama berhasil dibaca.
Pada kalimat berikutnya, suaranya mulai gemetar. Ia keliru membaca akhir sebuah kata.
Miss Fadilah mengangkat tangan.
“Berhenti sebentar. Perhatikan kedudukan katanya.”
Naila meneliti susunan kalimat.
“Itu menjadi mudhaf ilaih?”
“Benar. Jadi akhir katanya?”
“Kasrah.”
“Silakan ulangi.”
Naila memperbaiki bacaannya dan melanjutkan sampai akhir.
“Bagus,” kata Miss Fadilah. “Masih ada beberapa bagian yang harus dilatih, tetapi cara berpikirmu sudah berkembang. Kamu tidak lagi hanya menebak harakat.”
Ucapan itu membuat bahu Naila terasa lebih ringan.
Setelah setoran kitab, ia berpindah ke hadapan Miss Fatim.
Mushaf dibuka. Naila mulai membaca ayat yang telah dimurojaahnya selama beberapa hari.
Ayat pertama lancar.
Ayat kedua juga lancar.
Di tengah bacaan, pikirannya mendadak kosong.
Naila terdiam.
Miss Fatim tidak langsung menyebutkan jawabannya.
“Ingat kata sebelum bagian yang terlupa,” katanya.
Naila mengulang satu potongan ayat dalam hati. Perlahan, sambungannya muncul.
Ia melanjutkan hingga selesai.
“Alhamdulillah,” ujar Miss Fatim. “Bacaanmu lebih tenang. Tetap perbaiki panjang-pendeknya dan ulangi bagian yang tadi sempat terlupa.”
Saat kembali ke tempat duduk, Zahra bertanya, “Bagaimana?”
“Masih ada yang salah.”
“Tapi kamu berhasil menyelesaikannya?”
Naila tersenyum. “Aku selesai dan sekarang tahu apa yang harus diperbaiki.”
Hana kemudian maju. Suaranya masih pelan, tetapi tidak lagi terhenti karena rasa takut. Zahra juga berhasil menahan kebiasaannya membaca terlalu cepat.
Hari itu, mereka menyadari bahwa setoran bukanlah sebuah pengadilan. Sorogan adalah percakapan antara murid dan guru—tempat kesalahan ditemukan, diperiksa, dan diperbaiki dengan penuh perhatian.

Bulan-bulan berlalu.
Serambi yang dahulu terasa menegangkan kini menjadi tempat yang dirindukan. Di sanalah Naila pernah terbata-bata membaca kitab. Di sanalah Zahra belajar memperlambat bacaan. Di sanalah Hana menemukan keberanian untuk memperdengarkan suaranya.
Pada malam penutupan sesi pembelajaran, mereka duduk melingkar bersama Miss Fatim dan Miss Fadilah.
Kitab dan mushaf tersusun di tengah lingkaran.
“Coba ingat kembali,” kata Miss Fadilah, “apa yang kalian rasakan ketika pertama kali melihat kitab kuning?”
Zahra mengangkat tangan.
“Saya merasa kitabnya sedang menguji keberanian saya.”
Semua tertawa.
“Sekarang?” tanya Miss Fadilah.
“Sekarang masih menguji,” jawab Zahra, “tetapi setidaknya saya sudah tahu cara menjawabnya.”
Miss Fatim tersenyum. “Lalu apa yang kalian pelajari dari murojaah dan setoran?”
Hana menjawab lebih dahulu.
“Saya belajar bahwa lupa tidak berarti gagal. Hafalan harus dijaga dengan sabar. Kalau salah, kita mengulang, bukan menyerah.”
Miss Fatim mengangguk bangga.
Naila membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya. Pada halaman pertama masih tertulis kalimat pemberian ibunya:
Hari ini harus lebih baik.
Ia membalik beberapa halaman. Di sana terdapat catatan tentang hari pertamanya di Ma’had, perjuangan bangun pagi, ketakutannya belajar bahasa Arab, hingga malam ketika ia pertama kali membuka kitab kuning.
“Dulu saya mengira berhasil mengaji berarti tidak pernah salah,” kata Naila. “Saya ingin membaca lancar sejak pertama kali mencoba. Saya juga ingin menghafal tanpa pernah lupa.”
Semua orang mendengarkannya.
“Sekarang saya memahami bahwa keberhasilan bukan tentang tidak pernah salah. Keberhasilan adalah tetap membuka kitab setelah salah membaca, kembali mengulang ayat yang terlupa, dan bersedia menerima koreksi.”
Ia memandang Hana.
“Saya belajar dari Hana bahwa ketelitian adalah kekuatan.”
Kemudian ia memandang Zahra.
“Saya belajar dari Zahra bahwa proses yang sulit tetap bisa dijalani dengan gembira.”
Terakhir, ia menatap kedua musyrifahnya.
“Dari Miss Fadilah, saya belajar bahwa ilmu yang sulit dapat dipahami jika diurai sedikit demi sedikit. Dari Miss Fatim, saya belajar bahwa Al-Qur’an dijaga dengan ketenangan dan keistiqamahan.”
Miss Fadilah tersenyum.
“Itulah kehidupan di Ma’had. Ilmu tidak hanya ditemukan pada halaman kitab.”
“Ilmu juga tumbuh melalui adab, kesabaran, kedisiplinan, dan persahabatan,” sambung Miss Fatim.
Malam ditutup dengan doa bersama.
Setelah itu, Naila, Zahra, dan Hana berdiri di serambi. Langit begitu jernih. Cahaya lampu dari bangunan Ma’had memantul pada jalan yang masih basah oleh embun.
Naila memegang kitab di tangan kanan dan mushaf di tangan kiri.
Dahulu, keduanya terasa seperti beban yang harus diselesaikan. Kini, keduanya menjadi teman perjalanan.
“Besok kita tetap murojaah, kan?” tanya Hana.
“Tentu,” jawab Naila.
Zahra menghela napas panjang. “Kukira malam ini kita resmi libur.”
“Menjaga hafalan tidak mengenal libur,” kata Hana.
Zahra menatapnya. “Hana yang sekarang berbeda sekali dengan Hana yang dulu takut bersuara.”
Hana tersenyum. “Karena sekarang aku punya teman yang mau mendengarkan.”
Mereka berjalan kembali menuju kamar sambil tertawa.
Sebelum tidur, Naila membuka buku catatannya dan menulis:
Di Ma’had, aku belajar bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang diketahui. Ilmu adalah sesuatu yang dicari dengan kesungguhan, dijaga dengan adab, diulang dengan kesabaran, dan diamalkan dalam kehidupan.
Naila menutup bukunya.
Di luar jendela, cahaya lampu serambi masih menyala. Cahaya itu tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk menunjukkan jalan.
Seperti ilmu yang tumbuh di antara baris-baris kitab.
Seperti ayat yang dijaga melalui pengulangan.
Seperti keberanian yang perlahan tumbuh di dalam hati seorang mahasantri.
