Pengantar Sebuah Perjalanan

Setiap perjalanan besar sering kali dimulai dari sebuah langkah yang tampak sederhana. Sebuah koper kecil yang ditutup perlahan, sepasang tangan yang saling menggenggam lebih lama dari biasanya, dan doa-doa yang diam-diam diselipkan di antara pakaian, buku, serta bekal perjalanan. Demikianlah perjalanan Azzahra Nabila Rahmani dimulai—bukan dari tempat yang megah, melainkan dari sebuah rumah sederhana di lereng pegunungan Jawa Tengah.

Pagi itu, udara desa terasa lebih dingin. Kabut masih menggantung di antara pepohonan, sementara suara ayam, gemerisik daun, dan langkah-langkah kecil di halaman seolah menjadi irama perpisahan. Zahra berdiri di depan rumah dengan sebuah koper di sampingnya. Di dalam koper itu hanya ada beberapa pakaian, buku catatan, mukena, dan Al-Qur’an kecil pemberian ibunya. Namun di dalam hatinya, ia membawa sesuatu yang jauh lebih berat: harapan kedua orang tuanya.

Ia akan meninggalkan rumah untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama. Meninggalkan dapur yang setiap pagi dipenuhi aroma masakan ibunya, suara ayah yang membaca koran di ruang depan, serta jalan-jalan desa yang telah akrab dengan setiap langkahnya. Semua yang selama ini terasa biasa, pagi itu berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Ibunya berkali-kali merapikan kerudung Zahra, meskipun tidak ada yang salah dengan letaknya. Barangkali itu hanya cara seorang ibu menyembunyikan beratnya perpisahan. Ayahnya berdiri tidak jauh dari mereka, mencoba tersenyum sembari memastikan semua barang telah dimasukkan ke dalam kendaraan.

“Pergilah mencari ilmu, Zahra,” pesan ayahnya. “Jangan takut berada di tempat yang lebih besar. Jangan merasa kecil hanya karena kamu berasal dari desa kecil. Banyak orang besar lahir dari tempat yang sederhana.”

Zahra mengangguk perlahan. Ia berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi sudut matanya. Pada saat itu, ia menyadari bahwa keberangkatannya bukan hanya tentang diterima sebagai mahasiswi baru. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan dari desa menuju kota, dari rumah menuju kampus, atau dari seorang anak sekolah menjadi mahasiswa.

Ia sedang membawa doa keluarganya menuju masa depan.

Sepanjang perjalanan, Zahra lebih banyak memandang ke luar jendela. Jalan desa yang sempit perlahan berubah menjadi jalan raya yang ramai. Bukit-bukit yang hijau semakin jauh tertinggal. Rumah-rumah sederhana berganti dengan gedung, kendaraan, dan keramaian kota yang belum pernah benar-benar ia kenal.

Ada rasa kagum, tetapi juga takut.

Di dalam pikirannya bermunculan banyak pertanyaan. Mampukah ia mengikuti perkuliahan? Mampukah ia hidup jauh dari orang tua? Akankah ia menemukan teman? Bagaimana kehidupan di Ma’had? Apakah ia sanggup menjalani aturan-aturan yang mungkin berbeda dari kebiasaannya di rumah?

Zahra tidak memiliki jawaban untuk semua pertanyaan itu.

Ia hanya memiliki keyakinan bahwa Allah tidak membawanya sejauh ini tanpa suatu alasan.

Ketika kendaraan yang membawanya mulai memasuki kawasan UIN Walisongo, Zahra duduk lebih tegak. Dari balik jendela, ia melihat gerbang kampus berdiri di hadapannya. Nama UIN Walisongo terpampang jelas, seolah menyambut setiap anak muda yang datang membawa mimpi, ketakutan, dan harapan masing-masing.

Bagi sebagian orang, gerbang itu mungkin hanyalah pintu masuk menuju sebuah universitas. Namun bagi Zahra, gerbang tersebut adalah batas antara kehidupan yang telah dikenalnya dan kehidupan baru yang belum pernah ia jalani.

Di balik gerbang itu, ia melihat mahasiswa berjalan membawa buku dan laptop. Beberapa di antaranya berbincang dengan penuh percaya diri. Ada yang tampak terburu-buru menuju gedung perkuliahan, ada pula yang berdiri di bawah pohon sambil berdiskusi. Zahra memperhatikan mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Untuk sesaat, ia merasa begitu kecil.

Ia hanyalah seorang perempuan dari desa pegunungan yang datang dengan koper sederhana, pakaian secukupnya, dan keberanian yang masih mudah goyah. Ia belum mengenal siapa pun. Ia belum memahami kehidupan kampus. Bahkan untuk bertanya arah pun, ia masih harus mengumpulkan keberanian.

Namun perkataan ayahnya kembali terngiang.

Jangan merasa kecil hanya karena kamu berasal dari desa kecil.

Zahra menarik napas dalam-dalam. Ia kemudian melangkahkan kaki melewati gerbang UIN Walisongo. Langkahnya memang belum sepenuhnya mantap, tetapi ia tahu bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak merasa takut. Terkadang keberanian adalah tetap berjalan meskipun rasa takut masih tinggal di dalam dada.

Perjalanan Zahra belum berhenti di gerbang kampus.

Setelah melewati beberapa gedung dan jalan yang terasa asing, ia tiba di tempat yang akan menjadi rumah barunya: Ma’had Al-Jami’ah.

Bangunan itu berdiri di hadapannya dengan pintu-pintu yang tertutup dan jendela-jendela yang menyimpan banyak cerita. Dari halaman depan, terlihat beberapa mahasiswa baru datang bersama keluarga mereka. Ada yang sibuk menurunkan koper, ada yang memeluk ibunya, dan ada pula yang sudah mulai bercakap-cakap dengan teman baru.

Zahra berdiri beberapa saat di depan bangunan itu.

Selama ini, ia membayangkan Ma’had hanya sebagai tempat tinggal mahasiswa. Sebuah asrama dengan kamar, tempat tidur, lemari, serta berbagai aturan yang harus dipatuhi. Namun ketika berdiri langsung di hadapan pintunya, Zahra merasakan bahwa tempat ini akan menjadi lebih dari sekadar bangunan.

Di tempat inilah ia akan belajar bangun sebelum fajar, berjalan menuju masjid dalam keadaan mengantuk, mengikuti pembinaan, membaca Al-Qur’an, mengaji kitab, menyelesaikan tugas kuliah, dan belajar membagi waktu. Di tempat ini pula ia akan bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, menjalani kesalahpahaman, merasakan kerinduan, menemukan persahabatan, serta perlahan-lahan mengenal dirinya sendiri.

Ma’had bukan hanya akan mengajarinya cara hidup jauh dari rumah.

Ma’had akan mengajarinya cara membangun rumah di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Dengan kedua tangan, Zahra menggenggam pegangan kopernya. Ia menoleh kepada ayah dan ibunya yang berdiri beberapa langkah di belakang. Tidak ada lagi kalimat panjang yang mereka ucapkan. Hanya tatapan yang penuh doa dan keyakinan bahwa anak perempuan mereka harus mulai berjalan sendiri.

Zahra kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah pintu Ma’had.

Di balik pintu itu, telah menunggu kamar yang belum ia kenal, teman-teman yang belum pernah ia temui, musyrifah yang kelak membimbingnya, serta hari-hari yang akan menguji kesabaran dan keberaniannya. Di balik pintu itu pula tersimpan tawa, tangis, perselisihan kecil, nasihat, kerinduan, dan persahabatan yang suatu hari akan menjadi kenangan.

Tangannya menyentuh gagang pintu.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Untuk beberapa detik, Zahra ragu. Namun ia segera menyadari bahwa kehidupan tidak selalu memberikan kesempatan untuk mengetahui apa yang ada di balik sebuah pintu sebelum kita berani membukanya.

Dengan mengucapkan basmalah dalam hati, ia mendorong pintu itu perlahan.

Pada saat itulah perjalanan yang sebenarnya dimulai.

Zahra datang ke UIN Walisongo untuk mencari ilmu. Ia memasuki Ma’had dengan harapan dapat menjadi mahasiswa yang baik dan membanggakan keluarganya. Namun ia belum mengetahui bahwa di tempat itu, ia akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada nilai akademik.

Ia akan menemukan keluarga baru.

Ia akan menemukan keberanian untuk berbicara.

Ia akan menemukan makna kedisiplinan, persahabatan, pengorbanan, dan kedewasaan.

Dan yang paling penting, ia akan menemukan dirinya sendiri.

Sebab terkadang, Allah tidak mengubah kehidupan seseorang melalui perjalanan menuju tempat yang sangat jauh. Terkadang perubahan itu dimulai ketika seseorang memberanikan diri membuka sebuah pintu sederhana.

Sebuah pintu yang memisahkan ketakutan dari keberanian.

Sebuah pintu yang mempertemukan kerinduan dengan persahabatan.

Sebuah pintu yang mengantarkan langkah kecil menuju langit Walisongo.

Sebuah pintu bernama Ma’had Al-Jami’ah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *