
Pagi itu datang lebih pelan daripada biasanya.
Kabut tipis masih menggantung di lereng pegunungan, menutupi pucuk-pucuk pinus seperti selendang putih yang belum sempat dilipat. Cahaya matahari muncul malu-malu dari balik bukit, menyelinap melalui celah dedaunan, lalu jatuh sebagai garis-garis keemasan di jalan desa yang masih basah oleh embun.
Dari belakang rumah terdengar gemericik air yang mengalir melalui parit kecil. Ayam-ayam berlarian di halaman, mematuk tanah di dekat rumpun bunga sepatu. Di kejauhan, suara mesin penggiling padi mulai terdengar, disusul sapaan beberapa warga yang berjalan menuju kebun.
Desa itu terbangun seperti hari-hari sebelumnya—tenang, sederhana, dan nyaris tidak pernah merasa perlu terburu-buru.
Namun bagi Zahra, pagi itu tidak sama.
Rumah kecil yang selama ini menjadi seluruh dunianya terasa lebih sunyi. Setiap benda seolah menyimpan wajah perpisahan. Pintu kayu yang biasanya dibuka tanpa dipikirkan, jendela yang menghadap ke kebun pisang, rak buku buatan ayah, bahkan suara jam dinding yang berdetak dari ruang tengah—semuanya mendadak terasa penting.
Seolah-olah rumah itu sedang meminta untuk dilihat sekali lagi dengan sungguh-sungguh.
Di sudut kamar, sebuah koper biru tua terbuka di atas lantai. Ukurannya tidak besar. Rodanya sudah sedikit aus karena dahulu pernah dipakai bibinya bepergian ke kota. Pada salah satu sisinya terdapat bekas goresan panjang yang tidak dapat dibersihkan.
Zahra berjongkok di depannya, memasukkan pakaian satu demi satu.
Tiga gamis.
Beberapa jilbab.
Dua buku tulis.
Sebuah kitab tipis.
Peralatan mandi.
Mukena putih yang warnanya tak lagi secerah ketika pertama kali dibeli.
Tidak banyak yang ia bawa. Ibunya telah berulang kali mengingatkan agar ia tidak memenuhi koper dengan barang-barang yang sebenarnya bisa dibeli di kota. Namun Zahra tetap memasukkan beberapa benda kecil yang mungkin tidak terlalu berguna bagi orang lain: saputangan bermotif bunga, foto keluarganya saat Lebaran, dan sebuah kotak kayu mungil berisi jepit rambut pemberian adiknya.
Di antara seluruh barang itu, ada satu benda yang paling lama berada di tangannya.
Sebuah Al-Qur’an kecil bersampul hijau tua.
Sudut-sudut sampulnya telah sedikit terkelupas. Beberapa halaman di dalamnya memiliki tanda pensil, sisa dari masa ketika Zahra belajar menghafal surah-surah pendek bersama guru ngajinya di musala desa.
Al-Qur’an itu merupakan hadiah dari ibunya ketika ia berhasil menyelesaikan hafalan Juz Amma pada tahun terakhirnya di madrasah tsanawiyah.
Zahra membuka halaman pertama.
Tulisan tangan ibunya masih ada di sana, meskipun tintanya mulai memudar.
Untuk Zahra. Semoga setiap huruf yang kau baca menjadi cahaya di setiap langkahmu.
Jarinya mengikuti bentuk tulisan itu perlahan.
Huruf-hurufnya tidak terlalu rapi. Beberapa bagian naik dan turun. Namun Zahra mengenali setiap lekuknya. Tulisan itu sama dengan tulisan pada daftar belanja yang ditempel di dinding dapur, pada catatan izin sekolah, dan pada kartu ulang tahun sederhana yang selalu dibuat ibunya sendiri.
Dadanya terasa sesak.
Ia memejamkan mata.
Benarkah aku sudah sebesar ini?
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Bukankah kemarin aku masih berlari di pematang sawah tanpa sandal? Masih menangis karena seragamku terkena lumpur? Masih bersembunyi di belakang Ibu ketika ada tamu?
Ia teringat suatu sore bertahun-tahun lalu ketika hujan turun sangat deras. Zahra kecil dan adiknya bermain perahu kertas di halaman. Air mengalir dari atap, memenuhi selokan kecil di depan rumah. Ia tertawa terlalu keras sampai terpeleset dan jatuh ke dalam kubangan.
Ibunya datang sambil membawa payung.
Zahra mengira ia akan dimarahi.
Namun sang ibu justru tertawa saat melihat wajah dan bajunya dipenuhi lumpur.
“Kalau sudah selesai menjadi anak sawah, masuk. Air hangatnya sudah Ibu siapkan.”
Kenangan itu membuat ujung bibir Zahra terangkat sesaat.
Waktu rupanya tidak pernah memberi pengumuman saat membawa seseorang meninggalkan masa kecilnya. Ia tidak mengetuk pintu, tidak meminta persetujuan. Ia hanya terus berjalan, lalu suatu hari membuat seseorang berdiri di depan sebuah koper dan bertanya-tanya kapan tepatnya rumah mulai terasa terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Zahra menutup Al-Qur’an itu dan meletakkannya paling atas, seolah benda tersebut harus menjadi yang pertama ia lihat saat membuka koper nanti.
Dari dapur terdengar suara spatula beradu dengan wajan.
Aroma bawang goreng, nasi hangat, dan sayur lodeh perlahan memenuhi rumah.
Ibunya selalu memasak lebih banyak ketika ada anggota keluarga yang hendak bepergian. Tidak peduli perjalanan itu hanya dua jam atau harus menyeberangi beberapa kota. Seolah-olah makanan terakhir dari rumah harus cukup untuk menjaga seseorang sepanjang perjalanan.
Zahra berdiri dan berjalan menuju dapur.
Ibunya membelakangi pintu. Kerudung sederhana menutupi rambutnya. Tangan kanannya mengaduk kuah lodeh, sementara tangan kiri memegang ujung wajan.
“Sudah selesai berkemas?” tanyanya tanpa menoleh.
“Sudah, Bu.”
“Mukenanya?”
“Sudah masuk.”
“Baju hangat?”
“Sudah.”
“Obat masuk angin?”
Zahra menahan senyum. “Sudah.”
“Minyak kayu putih?”
“Sudah juga.”
Ibunya akhirnya menoleh dan menyipitkan mata.
“Benar?”
“Benar.”
“Coba nanti Ibu periksa.”
Zahra tertawa kecil. “Kalau Ibu periksa lagi, nanti semua isi kopernya dibongkar.”
“Tidak apa-apa. Lebih baik dibongkar sekarang daripada kamu menelepon malam-malam karena lupa membawa sesuatu.”
Kalimat itu diucapkan seperti nasihat biasa. Namun setelahnya, dapur kembali sunyi.
Ibunya menunduk, berpura-pura memeriksa api kompor. Dengan ujung kerudung, ia mengusap sudut mata secara cepat.
Gerakan itu kecil sekali.
Namun Zahra melihatnya.
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. Selama ini ibunya adalah tempat segala kata pulang. Zahra bisa menceritakan nilai ujian yang buruk, pertengkaran dengan teman, sandal yang hilang, atau keinginan sederhana membeli buku baru.
Akan tetapi, pagi itu, justru kata-kata paling penting terasa terlalu berat untuk diucapkan.
Ibunya mematikan kompor, lalu berjalan mendekat.
“Coba Ibu lihat.”
“Apa?”
“Kerudungmu.”
Beliau membetulkan bagian kerudung Zahra di dekat pipi. Padahal tidak ada yang salah. Jarum pentulnya sudah terpasang, lipatannya juga telah rapi.
Namun seorang ibu selalu menemukan sesuatu untuk dirapikan, hanya agar tangannya memiliki alasan menyentuh anaknya sedikit lebih lama.
“Kamu sudah dewasa,” katanya pelan.
Zahra tersenyum, tetapi matanya mulai panas.
“Belum, Bu.”
“Sudah. Cuma kadang-kadang masih suka meletakkan gelas sembarangan.”
Mereka tertawa kecil.
Lalu ibunya bertanya, “Ada yang tertinggal?”
Zahra menggeleng.
Namun di dalam hati ia menjawab berbeda.
Ada.
Aku akan meninggalkan sebagian diriku di rumah ini.
Ia akan meninggalkan kebiasaan mendengar suara ibunya menumbuk bumbu setiap pagi. Meninggalkan sajadah yang selalu terbentang berdampingan selepas Magrib. Meninggalkan adiknya yang sering mengetuk kamar hanya untuk menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
Ia akan meninggalkan kehidupan yang begitu dikenalnya hingga selama ini tidak pernah ia pikirkan sebagai sesuatu yang istimewa.
Barangkali begitulah sifat rumah.
Kita sering baru menyadari kehangatannya ketika sedang bersiap pergi.
Di ruang tengah, ayah duduk di kursi kayu dekat jendela. Koran terbuka lebar di tangannya. Kacamata baca bertengger di ujung hidung.
Namun sejak Zahra keluar dari kamar, halaman yang dibaca ayah tidak pernah berganti.
Pandangan lelaki itu lebih sering jatuh ke halaman rumah, ke koper biru di dekat pintu, atau ke jam dinding yang perlahan mendekati waktu keberangkatan.
Ayah tidak pandai menunjukkan kesedihan.
Sejak kecil, Zahra hampir tidak pernah melihatnya menangis. Bahkan ketika kakek meninggal, ayah hanya duduk di sudut ruangan dengan wajah tenang, menerima para pelayat, lalu menangis sendirian selepas semua orang pulang.
Bagi ayah, kesedihan seperti hujan di ladang. Ia boleh turun, tetapi tidak harus selalu dilihat orang.
Zahra duduk di kursi sebelahnya.
Ayah melipat koran.
“Sudah sarapan?”
“Belum.”
“Nanti makan dulu. Jangan berangkat dengan perut kosong.”
“Iya, Yah.”
“Uang yang Ayah kasih disimpan di mana?”
“Di dompet. Sebagian saya pisahkan di tas.”
Ayah mengangguk. “Jangan ditaruh satu tempat semua. Kalau dompetnya hilang, kamu masih punya simpanan.”
“Baik.”
Percakapan mereka terdengar biasa. Tentang uang, tas, makan, dan perjalanan.
Namun Zahra tahu, ayah sedang berusaha menunda hal yang sebenarnya ingin ia katakan.
Beberapa detik berlalu.
Dari luar terdengar daun-daun bambu saling bergesekan tertiup angin. Suaranya panjang dan lembut, memenuhi ruang di antara mereka.
Ayah meletakkan koran di atas meja.
“Zahra.”
“Ya, Yah.”
“Pergilah mencari ilmu.”
Ayah menatapnya lurus.
“Jangan takut berada di tempat yang lebih besar.”
Nada suaranya tenang. Hampir seperti saat ia mengingatkan Zahra untuk menutup pintu atau mematikan lampu. Namun justru karena ketenangannya, setiap kata terasa jatuh lebih dalam.
“Jangan pernah merasa kecil hanya karena kamu berasal dari desa kecil.”
Ayah tersenyum tipis.
“Banyak orang besar lahir dari tempat yang sederhana.”
Zahra menunduk.
Ia telah mendengar banyak kalimat motivasi dari buku, guru, dan video-video di telepon genggam. Namun tidak ada satu pun yang terasa seperti kalimat ayah pagi itu.
Mungkin karena Zahra tahu dari mana kata-kata itu lahir.
Dari tubuh yang setiap hari berhadapan dengan matahari.
Dari tangan yang kasar karena pekerjaan.
Dari punggung yang sering pegal, tetapi tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti.
Dari seorang lelaki yang tidak sempat menempuh pendidikan tinggi, tetapi bekerja agar putrinya dapat pergi lebih jauh.
Zahra meraih tangan ayah.
Telapak tangan itu keras dan penuh guratan. Kuku-kukunya pendek, beberapa bagiannya menghitam oleh tanah dan pekerjaan.
Ia teringat suatu malam ketika masih sekolah menengah atas. Zahra terbangun karena ingin minum. Saat melewati ruang tengah, ia melihat ayah masih duduk menghitung beberapa lembar uang.
Ada uang sekolah.
Biaya seragam.
Uang buku.
Pembayaran listrik.
Ayah menghitungnya berkali-kali, lalu memisahkan sebagian ke dalam amplop bertuliskan nama Zahra.
Keesokan paginya ayah tetap berangkat bekerja seperti biasa.
Tidak pernah berkata bahwa uangnya hampir tidak cukup.
Tidak pernah menunjukkan kekhawatiran.
Hanya berkata, “Kalau butuh buku, bilang.”
Saat itu Zahra tidak memahami betapa besar kalimat tersebut.
Kini, ketika jemarinya menggenggam tangan ayah, ia mengerti.
Barangkali beginilah bentuk cinta seorang ayah.
Tidak selalu berupa pelukan atau kata-kata lembut. Kadang ia hadir sebagai tubuh yang tetap bangun sebelum Subuh meskipun lelah. Sebagai sepatu kerja yang solnya mulai menipis. Sebagai nasi yang dimakan belakangan karena memastikan anak-anaknya telah kenyang.
“Ayah,” kata Zahra lirih.
Ayah menatapnya.
“Saya takut.”
Itulah pertama kalinya Zahra berhasil mengucapkan perasaan yang sejak tadi memenuhi dadanya.
“Takut apa?”
“Takut tidak bisa mengikuti pelajaran. Takut tidak punya teman. Takut mengecewakan Ayah sama Ibu.”
Ayah tidak langsung menjawab.
Ia memandang keluar jendela, ke arah pegunungan yang puncaknya masih diselimuti kabut.
“Waktu pertama kali Ayah bekerja ke kota,” katanya, “Ayah juga takut.”
Zahra menatapnya. Selama ini ia mengira ayah tidak pernah takut pada apa pun.
“Ayah bahkan tidak tahu harus naik kendaraan yang mana. Uang cuma sedikit. Tidak punya kenalan.”
“Lalu bagaimana?”
“Ya dijalani.”
Ayah tersenyum.
“Keberanian bukan karena kita sudah tahu semuanya akan baik-baik saja. Keberanian itu ketika kita tetap melangkah meskipun belum tahu apa yang akan terjadi.”
Zahra menggenggam tangannya lebih erat.
“Kalau nanti kamu gagal dalam satu hal, bukan berarti seluruh perjalananmu gagal,” lanjut ayah. “Kalau kamu merasa kecil, ingat rumah ini. Kami tidak mengirimmu untuk menjadi orang lain. Kami mengirimmu supaya kamu menemukan dirimu sendiri.”
Air mata yang sejak tadi ditahan Zahra akhirnya jatuh.
Ayah mengusap kepalanya sebentar.
Gerakan itu kaku, seolah ia tidak terbiasa. Namun justru karena itu, Zahra merasakan seluruh kasih sayang yang tidak pernah selesai diucapkan.
Mereka sarapan bersama untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatan.
Ibu menyendokkan sayur lodeh lebih banyak ke piring Zahra.
“Bu, kebanyakan.”
“Habiskan.”
“Nanti di jalan mual.”
“Makanya makannya pelan-pelan.”
Adiknya duduk di seberang meja sambil terus memandangi Zahra.
“Kakak pulangnya kapan?”
“Belum berangkat sudah tanya pulang.”
“Soalnya nanti tidak ada yang bantuin tugas.”
Zahra tertawa. “Tugasmu sendiri, kerjakan sendiri.”
Adiknya menunduk, lalu berkata lebih pelan, “Nanti kamar Kakak kosong.”
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat Zahra berhenti mengunyah.
Selama ini ia sering kesal ketika adiknya masuk kamar tanpa mengetuk, meminjam pulpen tanpa izin, atau menghabiskan makanan yang disimpannya.
Pagi itu, semua gangguan kecil itu mendadak terasa seperti sesuatu yang akan dirindukan.
“Kamu boleh pakai meja Kakak,” kata Zahra. “Tapi jangan berantakan.”
Adiknya mengangguk.
“Dan jangan buka laci paling bawah.”
“Ada apa di situ?”
“Rahasia.”
Mata adiknya langsung berbinar.
“Berarti harus dibuka.”
Mereka tertawa, meskipun tawa itu menyimpan kesedihan yang tidak ingin disentuh terlalu dalam.
Setelah sarapan, ibu memeriksa koper untuk terakhir kali. Seperti yang diduga Zahra, hampir seluruh isinya dibongkar.
“Ini kaus kaki taruh di bagian atas.”
“Kenapa, Bu?”
“Supaya mudah dicari.”
“Handuknya jangan dilipat seperti itu. Nanti makan tempat.”
“Tapi tadi sudah muat.”
“Ibu tahu. Biar lebih rapi.”
Di sela kesibukannya, ibu diam-diam memasukkan sebungkus kecil makanan kering, obat-obatan, dan beberapa amplop.
“Apa itu?”
“Tidak apa-apa.”
Zahra membuka salah satunya. Di dalamnya terdapat uang dalam jumlah tidak banyak.
“Bu, uang saya sudah ada.”
“Ini simpanan.”
“Untuk apa?”
“Untuk keadaan kalau kamu sungkan bilang sama kami.”
Zahra ingin mengembalikannya. Ia tahu uang itu mungkin disisihkan ibunya dari belanja harian sedikit demi sedikit.
Namun sang ibu menutup tangan Zahra.
“Bawa.”
“Tapi Ibu—”
“Bawa,” ulangnya lembut. “Ibu akan lebih tenang.”
Zahra akhirnya memasukkan amplop itu ke dalam tas.
Ia memahami bahwa bagi seorang ibu, ketenangan sering kali berbentuk sangat sederhana: memastikan anaknya memiliki uang cadangan, makanan kecil, obat masuk angin, dan pakaian hangat.
Suara klakson travel terdengar dari depan rumah.
Pendek.
Namun suaranya seperti membelah pagi menjadi dua bagian: sebelum keberangkatan dan setelahnya.
Semua orang terdiam.
Ayah berdiri lebih dahulu, lalu mengangkat koper. Adik Zahra membawa tas kecil meskipun tali tasnya hampir menyentuh tanah.
Beberapa tetangga mulai keluar dari rumah. Di desa kecil, keberangkatan seorang anak menuju perguruan tinggi bukan hanya urusan satu keluarga. Ia adalah kabar yang ikut dirasakan banyak orang.
Bu Aminah dari rumah sebelah membawa pisang rebus untuk bekal.
Pak Darno menepuk bahu ayah sambil berkata, “Alhamdulillah, anaknya kuliah.”
Seorang nenek yang biasa menjaga warung memegang tangan Zahra.
“Belajar yang rajin, Nduk. Jangan lupa salat. Kalau sudah jadi orang pintar, jangan lupa desa.”
Zahra mengangguk sambil tersenyum.
Doa-doa dari desa memang tidak selalu disampaikan melalui kalimat yang panjang. Tidak menggunakan istilah rumit atau kata-kata indah.
Namun ketulusan membuat kalimat sederhana memiliki kekuatan yang tidak dapat diukur.
Di depan pagar, ibu memeluk Zahra.
Pelukan itu lebih erat daripada biasanya.
Tidak ada isak yang keras. Hanya bahu yang bergetar dan napas yang beberapa kali tertahan.
“Kalau capek, jangan lupa cerita sama Ibu.”
“Iya, Bu.”
“Kalau sakit, langsung bilang.”
“Iya.”
“Jangan menunggu parah.”
“Iya, Bu.”
“Kalau sedih—”
Ibu berhenti.
Air matanya jatuh lebih dahulu.
Zahra memeluknya kembali.
“Kalau sedih, saya telepon Ibu.”
Ibunya mengangguk di bahunya.
Saat pelukan itu terlepas, Zahra merasa seolah sebagian kehangatan tubuhnya tertinggal di tangan sang ibu.
Ayah berdiri di dekat mobil.
Ia tidak banyak bicara lagi. Hanya merapikan posisi koper di bagasi, memastikan tas Zahra tidak tertinggal, lalu menepuk bahunya.
“Bismillah.”
Satu kata.
Namun bagi Zahra, kata itu terasa seperti pintu yang dibukakan menuju masa depan.
Ia mencium tangan ayah dan ibu.
Kemudian memeluk adiknya.
“Jangan nangis,” kata Zahra.
“Aku tidak nangis.”
Padahal matanya sudah merah.
“Jaga Ibu sama Ayah.”
“Iya.”
“Belajar yang rajin.”
“Kakak juga.”
Zahra masuk ke dalam mobil.
Ia duduk di dekat jendela. Tangannya masih menggenggam tali tas dengan erat.
Mesin dinyalakan.
Mobil bergerak perlahan.
Dari balik kaca, Zahra melihat ayah, ibu, adik, dan para tetangga melambaikan tangan. Rumahnya tampak utuh seperti biasa: dinding berwarna krem, atap yang mulai kusam, pot bunga di dekat tangga, dan jemuran yang bergerak ditiup angin.
Namun bagi Zahra, rumah itu tidak lagi sama.
Rumah kini menjadi sesuatu yang berada di belakang, tetapi akan terus menarik hatinya untuk menoleh.
Mobil melewati tikungan pertama.
Sosok keluarganya mulai mengecil.
Pada tikungan berikutnya, rumah itu hanya terlihat sebagian.
Lalu semuanya menghilang di balik pepohonan.
Zahra menunduk.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia tidak berusaha menghapusnya.
Kadang-kadang tangis bukan pertanda seseorang tidak siap pergi. Tangis adalah cara hati mengucapkan terima kasih kepada tempat yang telah membesarkannya.
Di dalam tas, telepon genggamnya bergetar.
Sebuah pesan dari ibu.
Jangan lupa baca doa perjalanan. Ibu sama Ayah selalu mendoakanmu. Hati-hati, Nduk.
Zahra membaca pesan itu berkali-kali.
Kemudian membuka tasnya, mengambil Al-Qur’an kecil bersampul hijau, dan memeluknya di dada.
Di balik jendela, sawah-sawah berlari mundur. Gunung yang sejak kecil menjadi pemandangan pertama setiap pagi perlahan menjauh. Jalan desa berubah menjadi jalan raya. Rumah-rumah sederhana berganti deretan pertokoan dan kendaraan yang semakin padat.
Dunia yang dikenalnya sedang menghilang sedikit demi sedikit.
Namun ada sesuatu yang tidak ikut mengecil bersama jarak.
Doa orang tuanya.
Doa itu tetap tinggal di dalam dadanya. Menjadi kehangatan yang memeluk rasa takut. Menjadi suara yang berkata bahwa ia tidak benar-benar berjalan sendirian.
Zahra menempelkan kening pada kaca jendela.
Aku sedang menuju tempat yang belum kukenal.
Bagaimana kalau ternyata aku tidak cukup pintar?
Bagaimana kalau orang-orang di sana jauh lebih hebat?
Suara ayah kembali terdengar dalam ingatannya.
Jangan merasa kecil hanya karena kamu berasal dari desa kecil.
Ia menarik napas panjang.
Desa mungkin kecil di dalam peta. Namun dari sanalah ia belajar banyak hal yang tidak ditemukan di buku: kesabaran menunggu panen, ketulusan berbagi makanan dengan tetangga, keteguhan orang tua bekerja tanpa banyak keluhan, dan keyakinan bahwa doa dapat menempuh perjalanan lebih jauh daripada kendaraan apa pun.
Ia mulai menyadari bahwa asal-usulnya bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Desa itu adalah akar.
Dan seseorang tidak akan mampu tumbuh tinggi jika ia malu kepada akarnya sendiri.
Untuk pertama kalinya sejak mobil meninggalkan rumah, Zahra tersenyum.
Ia tidak sedang pergi untuk menjadi orang lain.
Ia sedang berangkat untuk menumbuhkan segala hal baik yang telah ditanamkan keluarganya.
Dalam setiap ilmu yang kelak dipelajari, ada keringat ayah.
Dalam setiap ayat yang dibaca, ada suara ibu.
Dalam setiap keberanian untuk melangkah, ada rumah kecil yang mengajarkannya tentang ketulusan.
Di dalam hati, Zahra membuat sebuah janji.
Aku akan pulang.
Bukan hanya membawa ijazah.
Bukan hanya membawa gelar yang dipajang di dinding.
Aku ingin pulang membawa sesuatu yang dapat membuat kehidupan orang lain sedikit lebih baik.
Ia membayangkan suatu hari nanti kembali ke desa itu. Mungkin jalanannya sudah lebih ramai. Mungkin pohon mangga di depan rumah sudah tumbuh semakin tinggi. Ayah dan ibunya mungkin memiliki lebih banyak garis di wajah.
Ia ingin kembali dan berkata bahwa perjalanan mereka tidak sia-sia.
Bahwa kerja keras ayah telah berubah menjadi ilmu.
Bahwa doa ibu telah tumbuh menjadi keberanian.
Bahwa anak perempuan yang dahulu berlari di pematang sawah telah belajar melihat dunia tanpa melupakan jalan pulang.
Mobil terus bergerak menuju kota.
Langit semakin terang.
Zahra menyandarkan kepala ke kursi sambil memeluk Al-Qur’an pemberian ibunya. Di balik rasa kehilangan, ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Bukan keyakinan bahwa semuanya akan mudah.
Melainkan keyakinan bahwa kesulitan apa pun dapat dijalani selama ia mengingat alasan keberangkatannya.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan dari desa menuju kota.
Bukan hanya perjalanan dari rumah menuju perguruan tinggi.
Ia adalah perjalanan seorang anak yang membawa harapan keluarganya di dalam sebuah koper kecil. Perjalanan seorang perempuan muda yang sedang belajar menerima bahwa menjadi dewasa berarti berani meninggalkan kenyamanan tanpa meninggalkan nilai-nilai yang membesarkannya.
Dan pada pagi yang diselimuti kabut itu, langkah Zahra menuju kehidupan baru akhirnya dimulai.
Ia meninggalkan rumah bukan karena ingin menjauh.
Ia pergi agar suatu hari dapat kembali membawa manfaat.
Sebab sejauh apa pun seseorang berjalan, rumah yang penuh doa tidak pernah benar-benar berada di belakang.
Rumah itu tinggal di dalam diri.
Menjadi arah ketika tersesat.
Menjadi teduh ketika lelah.
Dan menjadi alasan untuk terus melangkah ketika jalan terasa terlalu panjang.
